Di Tiongkok, sering kali menggunakan ungkapan "多灾多难" untuk menggambarkan sejarah mereka, seolah-olah tanah ini secara bawaan telah ditakdirkan penuh dengan bencana. Tetapi jika kita terus bertanya: dari mana sebenarnya penderitaan ini berasal? Dengan mundur selangkah dan merenung, kita akan menyadari bahwa sebagian besar dari apa yang disebut bencana tersebut bukanlah bencana alam, melainkan bencana manusia yang berulang kali dibuat sendiri dalam sejarah. Ketika kita menyadari hal ini, kita tidak bisa tidak bertanya lebih jauh: mengapa dalam satu kelompok yang sama, sering terjadi konflik politik yang keras, kejam, bahkan tidak manusiawi? Sampai di titik ini, pertanyaan tidak lagi sebatas peristiwa sejarah itu sendiri, melainkan mengarah ke tradisi budaya politik yang lebih dalam.



Konsep seperti "斩草除根" (memotong rumput sampai akar-akarnya) dan "除恶务尽" (menghapus kejahatan sampai tuntas) bukan sekadar retorika bahasa, melainkan mencerminkan sebuah psikologi politik jangka panjang: dalam menangani konflik internal, cenderung untuk menghapus lawan secara menyeluruh, bukan mencari kompromi dan keberlangsungan bersama. Pemikiran ini kurang mengandung konsep menang-menang atau menang-kalah, lebih banyak berlandaskan logika zero-sum: entah menang sepenuhnya atau kalah sepenuhnya, bahkan hasil terburuknya adalah keduanya mengalami kerugian dan musnah bersama. Di bawah pengaruh pola pikir seperti ini, kelompok kita dalam sejarah panjang sering menyelesaikan konflik internal dengan cara yang paling keras dan ekstrem, sehingga terus-menerus mengulangi penderitaan yang sebenarnya bisa dihindari.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan