Dari Telegraf Listrik hingga AI: Mengapa Janji Teknologi Selalu Menyembunyikan Kerugian Nyata

Sejarah teknologi menunjukkan pola yang berulang: setiap inovasi besar hadir dengan janji-janji gemerlap tentang masa depan yang lebih baik, namun meninggalkan jejak kerusakan yang jarang dibicarakan. Dari telegraf listrik di era 1890-an hingga kecerdasan buatan hari ini, pergeseran teknologi selalu membawa korban yang sama—mereka dengan daya tawar paling kecil di masyarakat. Pakar teori media Douglas Rushkoff mengamati bahwa pola ini terulang dalam narasi utopian yang dilontarkan para pemimpin Silicon Valley tentang AI. Bagi Rushkoff, profesor di Queens College/CUNY dan penulis “Survival of the Richest” dan “Team Human,” jargon-jargon optimistis tentang otomatisasi dan masa depan tanpa pekerjaan hanyalah sampul yang menutupi strategi penyelamatan diri kaum elit teknologi dari konsekuensi yang mereka ciptakan sendiri.

Ketakutan di Balik Optimisme: Mengapa Miliarder Teknologi Membangun Bunker

Dalam wawancara terbaru bersama Arden Leigh di Repatterning Podcast, Rushkoff menyampaikan kritik tajam terhadap para pemain teknologi terkemuka. Ia menunjukkan kontradiksi mencolok antara apa yang diucapkan para miliarder teknologi dan apa yang mereka lakukan secara diam-diam. Sementara figur seperti Mark Zuckerberg dan Sam Altman diduga membangun bunker pribadi, Elon Musk secara publik mempromosikan impian kolonisasi luar angkasa. “Para miliarder ini sebenarnya tidak percaya pada skenario utopis yang mereka tawarkan kepada publik,” kata Rushkoff. “Mereka percaya bahwa teknologi yang mereka ciptakan bisa menyelamatkan mereka—bukan menyelamatkan kita semua.”

Pendekatan ini mencerminkan ketakutan yang lebih dalam: rasa cemas bahwa sistem yang mereka bangun akan berkontribusi pada keruntuhan sosial dan lingkungan. Dalam menyembunyikan ketakutan ini, para pemimpin teknologi mengemas narasi yang berbeda untuk konsumsi publik. “Apa yang ditunjukkan oleh tindakan mereka—membangun bunker, merencanakan pelarian ke luar angkasa—adalah bukti nyata bahwa mereka tidak percaya teknologi akan menyelamatkan dunia,” ujar Rushkoff. “Mereka hanya percaya akan menyelamatkan mereka, sementara sisanya dari kita akan tenggelam.”

Pekerjaan Tidak Hilang, Hanya Berubah Bentuk—Menjadi Lebih Buruk

Salah satu klaim paling sering diulang tentang AI adalah bahwa teknologi ini akan mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja manusia. Namun Rushkoff menolak narasi sederhana ini. Menurut pandangannya, yang terjadi bukan pengurangan pekerjaan tetapi transformasi pekerjaan menjadi bentuk yang lebih tidak terlihat, lebih rendah upahnya, dan jauh lebih eksploitatif. “Kita tidak melihat pengurangan tenaga kerja,” kata Rushkoff. “Yang kita lihat adalah degradasi keterampilan dan penurunan kualitas pekerjaan.”

CEO Robinhood Vladimir Tenev dan sejumlah teknolog lainnya berpendapat bahwa AI akan memicu ledakan pekerjaan baru. Namun Rushkoff mengungkapkan ironi fundamental dalam klaim ini: infrastruktur yang diperlukan untuk membuat AI berfungsi sebenarnya mengandalkan jutaan tenaga kerja manusia. Dari penambangan tanah jarang untuk mendapatkan logam berharga hingga pelabelan data masif di fasilitas-fasilitas di Tiongkok dan Pakistan, sistem AI dibangun atas fondasi tenaga kerja yang tersembunyi dan sering kali dieksploitasi. “Anda membutuhkan ribuan orang untuk menggali logam tanah jarang,” kata Rushkoff. “Anda membutuhkan puluhan ribu orang untuk menandai miliaran data points. Ada infrastruktur tenaga kerja yang sangat besar di belakang layar, tetapi pekerjaan-pekerjaan ini adalah jenis pekerjaan yang tidak ingin kita akui atau bayar dengan layak.”

Pola ini tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi pada revolusi industri 1890-an dengan telegraf listrik. Saat itu juga, teknologi baru mengalihkan pekerjaan tradisional ke bentuk-bentuk baru yang lebih rendah status dan gajinya, sambil para pionir teknologi menceritakan kisah tentang kemajuan dan efisiensi. Rushkoff memperingatkan bahwa kita sedang mengulang sejarah yang sama, namun dengan skala yang jauh lebih besar.

Tenaga Kerja Yang Tidak Dihitung: Biaya Tersembunyi AI

Lisa Simon, kepala ekonom di Revelio Labs—sebuah perusahaan yang menganalisis tren pasar tenaga kerja—mengakui bahwa data sudah mencerminkan dampak nyata dari pergeseran ini. Pekerjaan yang paling terekspos terhadap otomatisasi telah mengalami penurunan permintaan terbesar, dengan efek paling terkonsentrasi pada tingkat entry-level. “Kami melihat ini terutama pada pekerjaan bergaji rendah, di mana ada kemampuan nyata untuk mengganti seluruh fungsi melalui otomatisasi,” kata Simon kepada Decrypt. “Dan ironisnya, upah di posisi-posisi ini tumbuh paling lambat.”

Di luar dampak ketenagakerjaan, Simon menunjukkan bahwa biaya lingkungan dari infrastruktur AI terus diabaikan dalam perhitungan manfaat teknologi. “Saya tidak berpikir biaya lingkungan dari pusat data raksasa ini benar-benar diperhitungkan dengan tepat,” katanya. Pusat data yang menjalankan model AI besar memerlukan daya listrik yang luar biasa, menciptakan jejak karbon yang signifikan dan permintaan akan energi yang mendorong eksplorasi sumber daya baru. Lagi-lagi, pola bersejarah terulang: teknologi baru justru meningkatkan ekstraksi sumber daya dan pemanfaatan tenaga kerja murah, bertentangan dengan janji tentang efisiensi dan pembebasan.

Bifurkasi Kemanusiaan: Pemenang dan Pengalah dalam Era AI

Vasant Dhar, profesor di Stern School of Business dan Center for Data Science NYU, menguraikan skenario yang lebih nuansa. Dhar berpendapat bahwa hasil dari transformasi AI kemungkinan bukanlah utopia atau distopia murni, tetapi sesuatu yang jauh lebih rumit: apa yang ia sebut sebagai “bifurkasi kemanusiaan.” Dalam scenario ini, teknologi AI “memperkuat sebagian orang” yang memiliki keahlian dan posisi untuk memanfaatkannya, sambil “melemahkan yang lain” yang hanya tersisa dengan AI sebagai “penopang, bukan penguat.”

“Kita akan melihat banyak penghancuran pekerjaan,” kata Dhar, menambahkan bahwa masih tidak jelas jenis-jenis pekerjaan apa yang akan muncul untuk mengisi kekosongan tersebut. Skenario ini berbeda dari apa yang digembar-gemborkan oleh optimis teknologi—tidak ada transisi yang mulus dari pekerjaan lama ke pekerjaan baru. Sebaliknya, ada risiko nyata akan ketimpangan yang semakin dalam.

David Bray dari Stimson Center, sebuah think tank terkemuka yang fokus pada keamanan dan teknologi, memperingatkan terhadap ekstrapolasi yang terlalu ekstrem dari kedua belah pihak. “Kebenaran kemungkinan terletak di tengah,” kata Bray kepada Decrypt. Namun ia mengakui bahwa narasi utopis yang mendominasi sering kali terlalu menyederhanakan kompleksitas sebenarnya. “Ketika saya mendengar visi utopis, satu sisi saya senang karena itu bukan menyebarkan ketakutan. Tetapi saya khawatir bahwa itu mengabaikan hal-hal yang perlu dilakukan selain hanya teknologinya sendiri.”

Pelajaran dari Sejarah: Mengapa Tata Kelola Lebih Penting dari Teknologi

Jika ada satu pembelajaran dari sejarah teknologi, dari telegraf listrik hingga AI, itu adalah bahwa dampak sesungguhnya ditentukan bukan oleh teknologi itu sendiri, tetapi oleh pilihan kebijakan yang kita buat. Dhar menekankan hal ini dengan jelas: “Hasilnya akan tergantung sepenuhnya pada tata kelola, bukan hanya pada inovasi teknologi. Akankah kita mengatur AI, atau AI yang akan mengatur kita?”

Simon, sambil tetap optimis tentang potensi jangka panjang AI, percaya bahwa saat ini membutuhkan intervensi kebijakan yang serius. Untuk menjaga kohesi sosial di tengah pergeseran pekerjaan dan distribusi keuntungan yang tidak merata, pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan program-program seperti pendapatan dasar universal atau model redistribusi yang lebih progresif.

Rushkoff mengambil perspektif yang lebih kritis, menekankan bahwa masalah utama adalah ideologi di balik promosi AI—apa yang ia sebut sebagai bentuk transhumanisme yang memandang mayoritas manusia sebagai sekali pakai. “Mereka memiliki semacam agama,” kata Rushkoff, “di mana Anda dan saya dipandang sebagai tahap larva dari evolusi manusia. Mereka membayangkan diri mereka terbang pergi atau terupload ke cloud, sementara kita semua hanyalah bahan bakar untuk pelarian mereka.”

Dengan demikian, debat tentang AI bukan hanya tentang teknologi atau pekerjaan. Ini tentang pilihan dasar mengenai siapa yang mendapat manfaat dari inovasi, siapa yang menanggung biayanya, dan apakah kita akan mengulang pola eksploitasi berabad-abad ini atau akhirnya memilih jalan yang berbeda.

Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan