Dalam beberapa tahun terakhir, harga barang di seluruh dunia melonjak, dan bank sentral di berbagai negara terus mengambil langkah untuk menghadapinya. Tapi tahukah Anda? Manfaat dari inflasi sebenarnya cukup banyak—peningkatan harga yang moderat tidak hanya dapat merangsang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan peluang kekayaan bagi investor yang cerdas. Daripada ketakutan dan kebingungan menghadapi kenaikan harga, lebih baik memahami logika di balik inflasi dan mengubah ancaman menjadi peluang. Artikel ini akan membawa Anda mendalami fenomena inflasi, strategi respons bank sentral, serta bagaimana membangun portofolio investasi yang kokoh di era kenaikan harga.
Daya Dorong Ekonomi di Balik Kenaikan Harga yang Terus Berlanjut
Sebelum membahas manfaat inflasi, kita perlu memahami apa itu inflasi. Secara sederhana, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus dalam suatu periode waktu, yang secara tidak langsung menyebabkan daya beli uang secara bertahap menurun—uang Anda menjadi semakin tidak berharga.
Indikator utama pengukuran inflasi adalah CPI (Indeks Harga Konsumen), yang mencerminkan perubahan harga rata-rata dari sekeranjang barang dan jasa. Sebagai contoh, di Taiwan, selama dua tahun terakhir, harga barang melonjak dengan cepat, dan tingkat inflasi tetap tinggi. Bank sentral Taiwan pun mengambil kebijakan kenaikan suku bunga secara berkelanjutan.
Lalu, bagaimana sebenarnya terjadinya kenaikan harga ini? Secara ringkas, ada empat pendorong utama.
Permintaan yang meningkat mendorong kenaikan harga
Ketika permintaan konsumen terhadap barang meningkat pesat, para pelaku usaha akan meningkatkan produksi dan menaikkan harga, sehingga laba perusahaan pun bertambah. Inflasi jenis ini kita sebut sebagai “inflasi permintaan-didorong”. Hubungan penawaran dan permintaan yang tampaknya sederhana ini sebenarnya membentuk siklus positif: laba perusahaan meningkat → perusahaan melakukan konsumsi dan investasi → permintaan secara keseluruhan semakin meningkat → ekonomi terus berkembang.
Contoh paling klasik dalam sejarah adalah ledakan ekonomi China awal tahun 2000-an. Saat itu, CPI naik dari 0% menjadi 5%, sementara pertumbuhan GDP melonjak dari 8% menjadi lebih dari 10%. Inflasi permintaan-didorong ini memang menyebabkan kenaikan harga, tetapi yang lebih penting adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, sehingga banyak pemerintah di seluruh dunia senang merangsang jenis permintaan ini.
Biaya produksi yang meningkat mendorong lonjakan harga
Jenis inflasi lain berasal dari kenaikan biaya produksi di hulu, seperti harga bahan baku dan energi yang meningkat. Kita sebut sebagai “inflasi biaya-didorong”. Contohnya, selama konflik Rusia-Ukraina tahun 2022, memberikan pelajaran berharga—ketergantungan Eropa terhadap energi Rusia terputus, harga minyak dan gas melonjak sepuluh kali lipat, dan CPI di zona euro pun melampaui 10% secara tahunan, mencapai level tertinggi dalam 40 tahun.
Berbeda dengan inflasi permintaan, inflasi biaya-didorong cenderung lebih berbahaya karena sering disertai penurunan output sosial dan kontraksi GDP—situasi yang sangat tidak diinginkan oleh pemerintah.
Risiko kelebihan pasokan uang
Kelebihan pasokan uang secara langsung dapat menyebabkan inflasi. Sejarah menunjukkan bahwa inflasi hiper yang parah sering kali disebabkan oleh pemerintah yang mencetak uang tanpa kendali. Di Taiwan, pada tahun 1950-an, pernah mengalami pelajaran pahit—untuk mengatasi defisit besar pasca perang, Bank Taiwan mencetak uang dalam jumlah besar, sehingga 8 juta dollar Taiwan hanya setara 1 dolar AS, dan harga barang melonjak dengan kecepatan yang luar biasa.
Ekspektasi inflasi yang menjadi kenyataan
Ketika masyarakat memperkirakan bahwa harga akan terus naik di masa depan, mereka cenderung segera membeli barang (sebelum harga naik lagi), sekaligus menuntut kenaikan gaji. Hal ini memicu pelaku usaha menaikkan harga, memulai siklus inflasi baru. Begitu ekspektasi inflasi terbentuk, sulit untuk mengubahnya. Inilah sebabnya mengapa bank sentral sangat menekankan pentingnya “menyampaikan komitmen bahwa inflasi akan dikendalikan.”
Bagaimana kenaikan harga yang moderat merangsang pertumbuhan ekonomi
Banyak orang merasa takut saat mendengar kata inflasi, tetapi ada satu pemahaman penting yang perlu diubah: manfaat inflasi yang moderat sebenarnya cukup signifikan.
Ketika inflasi tetap dalam batas wajar, orang akan memperkirakan bahwa barang di masa depan akan lebih mahal, sehingga mereka terdorong untuk berbelanja lebih banyak. Permintaan yang meningkat mendorong pelaku usaha memperluas investasi dan produksi, yang selanjutnya menggerakkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Contoh dari China kembali membuktikan hal ini—tingkat inflasi dari 0% naik ke 5%, sementara pertumbuhan GDP melonjak dari 8% menjadi lebih dari 10%, menunjukkan manfaat langsung dari inflasi.
Sebaliknya, apa yang terjadi jika inflasi di bawah 0% (deflasi)? Pasar akan menghadapi situasi yang sangat berbeda. Jepang pada tahun 1990-an mengalami tragedi ini—setelah gelembung ekonomi pecah, harga hampir berhenti naik, masyarakat lebih memilih menimbun uang tunai daripada berbelanja, sehingga permintaan menurun, pertumbuhan GDP menjadi negatif, dan ekonomi pun memasuki masa stagnasi selama hampir 30 tahun.
Oleh karena itu, bank sentral di seluruh dunia menetapkan target inflasi. Negara-negara maju seperti AS, Eropa, Inggris, Jepang, Kanada, dan Australia umumnya menargetkan 2-3%, sementara negara lain biasanya menetapkan dalam kisaran 2-5%. Tujuan bank sentral adalah menemukan titik keseimbangan emas antara inflasi dan deflasi.
Siapa yang bisa meraih keuntungan dari inflasi? Mengungkap rahasia kekayaan para debitur
Manfaat inflasi tidak hanya menguntungkan ekonomi secara umum, tetapi juga dapat mengubah pola kekayaan individu. Orang yang berutang justru menjadi pemenang di masa inflasi.
Ini mungkin terdengar kontraintuitif, tetapi logikanya sangat jelas. Meskipun inflasi mengikis daya beli uang tunai, bagi peminjam uang, inflasi adalah ladang kekayaan yang tersembunyi. Bayangkan Anda 20 tahun lalu meminjam 1 juta dolar Taiwan dengan suku bunga tetap 3% untuk membeli properti. Dalam 20 tahun, inflasi akan membuat nilai uang tersebut turun dari sekitar 1 juta menjadi sekitar 550 ribu dolar, tetapi Anda hanya perlu membayar kembali nominal 1 juta dolar. Secara nyata, Anda hanya membayar setengah dari jumlah pinjaman awal—ini adalah keuntungan tak terlihat dari inflasi bagi debitur.
Prinsip ini juga berlaku dalam dunia investasi. Di masa inflasi tinggi, investor yang menggunakan leverage utang untuk membeli saham, properti, emas, dan aset lainnya akan mendapatkan manfaat terbesar. Mereka tidak hanya menikmati kenaikan nilai aset, tetapi juga dapat membayar kembali pinjaman dengan uang yang nilainya menurun, menciptakan keuntungan ganda.
Kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral dan hubungan timbal balik dengan inflasi
Ketika harga barang naik di atas target, bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga. Bagaimana kenaikan suku bunga dapat menekan inflasi?
Kenaikan suku bunga secara langsung meningkatkan biaya pinjaman. Ketika suku bunga bank naik dari 1% menjadi 5%, pinjaman 1 juta dolar akan menimbulkan beban bunga tahunan dari 10 ribu menjadi 50 ribu dolar, sehingga konsumen dan perusahaan lebih cenderung menabung daripada meminjam. Dana mengalir dari pasar ke bank, likuiditas menyusut, dan permintaan terhadap barang pun berkurang. Akibatnya, pelaku usaha terpaksa menurunkan harga untuk meningkatkan penjualan, sehingga harga-harga turun dan inflasi terkendali.
Namun, kenaikan suku bunga tidak tanpa konsekuensi. Dengan berkurangnya permintaan, perusahaan akan mengurangi tenaga kerja, tingkat pengangguran meningkat, dan pertumbuhan ekonomi melambat. Contoh nyata adalah tahun 2022 di AS—untuk menekan inflasi yang mencapai 9,1% (tertinggi dalam 40 tahun), Federal Reserve menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali, total 425 basis poin, dari 0,25% menjadi 4,5%. Hasilnya, pasar saham pun mengalami penurunan besar: indeks S&P 500 turun 19%, dan Nasdaq yang lebih banyak berisi saham teknologi turun hingga 33%. Kenaikan suku bunga berhasil menurunkan inflasi, tetapi dengan biaya resesi ekonomi.
Keputusan investasi di lingkungan inflasi tinggi: saham energi dan aset lindung nilai
Ketika berbicara tentang investasi di lingkungan inflasi tinggi, kesimpulannya cukup jelas: inflasi rendah mendukung pasar saham, sedangkan inflasi tinggi cenderung merugikan pasar saham.
Namun, ini tidak berarti bahwa di masa inflasi tinggi kita harus menjauh dari pasar saham. Data sejarah menunjukkan bahwa sektor energi adalah pengecualian—ketika sektor lain mengalami tekanan, saham perusahaan energi sering justru naik melawan tren.
Tahun 2022 adalah bukti nyata. Di tengah kelesuan pasar saham secara umum, sektor energi justru memberikan pengembalian lebih dari 60%. Contohnya, saham perusahaan minyak Barat naik 111%, ExxonMobil naik 74%. Ketika harga barang melonjak karena kekurangan minyak dan gas, perusahaan energi yang memiliki sumber daya ini dan mendapatkan manfaat dari kenaikan harga menjadi tempat berlindung yang aman bagi investor.
Tiga langkah membangun portofolio anti-inflasi
Di era inflasi, pengaturan aset yang tepat menjadi sangat penting. Investor perlu mencari kombinasi aset yang mampu melindungi dari penggerusan nilai uang dan sekaligus memberikan pertumbuhan jangka panjang.
Langkah pertama: Identifikasi kategori aset yang tahan inflasi
Data sejarah menunjukkan bahwa kategori aset berikut relatif stabil selama periode inflasi tinggi:
Properti: Likuiditas yang melimpah selama inflasi biasanya mengalir ke properti, mendorong kenaikan harga rumah.
Emas dan perak: Harga emas berlawanan dengan tingkat suku bunga riil (suku bunga nominal dikurangi inflasi); semakin tinggi inflasi, semakin kuat performa emas.
Saham: Performa jangka pendek bervariasi, tetapi secara jangka panjang umumnya mengungguli inflasi.
Mata uang asing (terutama dolar AS): Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, Federal Reserve yang bersikap hawkish menyebabkan dolar menguat.
Langkah kedua: Bangun portofolio yang terdiversifikasi
Mengandalkan satu jenis aset terlalu berisiko. Pendekatan yang lebih aman adalah menyeimbangkan portofolio: 33% di saham untuk menangkap pertumbuhan pasar, 33% di emas untuk perlindungan nilai, dan 33% di dolar AS untuk menikmati apresiasi nilai tukar. Kombinasi ini membantu menyebar risiko sekaligus memperoleh imbal hasil yang seimbang selama siklus inflasi.
Langkah ketiga: Manfaatkan alat perdagangan modern untuk kemudahan eksekusi
Secara tradisional, mencapai alokasi ini memerlukan membuka rekening di berbagai broker—sulit dan memakan waktu. Kini, kontrak selisih harga (CFD) menawarkan solusi satu atap. CFD mencakup saham, emas, mata uang, aset digital, dan lainnya, yang dapat diakses melalui satu platform. Dengan leverage hingga 200 kali, modal awal yang dibutuhkan jauh lebih kecil.
Misalnya, melalui platform CFD, investor cukup mencari “emas” atau “XAUUSD” untuk menemukan produk terkait. Dengan leverage 100x, hanya dengan 19 dolar AS, mereka sudah bisa membuka posisi emas. Demikian pula, untuk indeks dolar atau saham energi seperti ExxonMobil, prosesnya jauh lebih sederhana dan efisien dalam mengelola portofolio anti-inflasi.
Ringkasan: Mengubah tantangan menjadi peluang
Kenaikan harga adalah tantangan sekaligus peluang. Manfaat inflasi tergantung pada: inflasi moderat dapat merangsang ekonomi, sedangkan inflasi tinggi membutuhkan intervensi bank sentral. Tugas investor bukanlah memprediksi inflasi, melainkan memahami mekanismenya dan membangun portofolio yang beragam untuk melindungi dari depresiasi mata uang sekaligus menangkap peluang apresiasi.
Saham, emas, properti, dan dolar—aset-aset ini masing-masing memiliki peran selama siklus inflasi. Kuncinya adalah menyesuaikan proporsi sesuai toleransi risiko dan periode investasi Anda. Apapun perkembangan inflasi, portofolio yang kokoh akan selalu menjadi perisai terbaik melawan kenaikan harga.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Apa saja manfaat inflasi? Kuasai 3 mekanisme utama, ubah kenaikan harga menjadi peluang investasi
Dalam beberapa tahun terakhir, harga barang di seluruh dunia melonjak, dan bank sentral di berbagai negara terus mengambil langkah untuk menghadapinya. Tapi tahukah Anda? Manfaat dari inflasi sebenarnya cukup banyak—peningkatan harga yang moderat tidak hanya dapat merangsang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan peluang kekayaan bagi investor yang cerdas. Daripada ketakutan dan kebingungan menghadapi kenaikan harga, lebih baik memahami logika di balik inflasi dan mengubah ancaman menjadi peluang. Artikel ini akan membawa Anda mendalami fenomena inflasi, strategi respons bank sentral, serta bagaimana membangun portofolio investasi yang kokoh di era kenaikan harga.
Daya Dorong Ekonomi di Balik Kenaikan Harga yang Terus Berlanjut
Sebelum membahas manfaat inflasi, kita perlu memahami apa itu inflasi. Secara sederhana, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus dalam suatu periode waktu, yang secara tidak langsung menyebabkan daya beli uang secara bertahap menurun—uang Anda menjadi semakin tidak berharga.
Indikator utama pengukuran inflasi adalah CPI (Indeks Harga Konsumen), yang mencerminkan perubahan harga rata-rata dari sekeranjang barang dan jasa. Sebagai contoh, di Taiwan, selama dua tahun terakhir, harga barang melonjak dengan cepat, dan tingkat inflasi tetap tinggi. Bank sentral Taiwan pun mengambil kebijakan kenaikan suku bunga secara berkelanjutan.
Lalu, bagaimana sebenarnya terjadinya kenaikan harga ini? Secara ringkas, ada empat pendorong utama.
Permintaan yang meningkat mendorong kenaikan harga
Ketika permintaan konsumen terhadap barang meningkat pesat, para pelaku usaha akan meningkatkan produksi dan menaikkan harga, sehingga laba perusahaan pun bertambah. Inflasi jenis ini kita sebut sebagai “inflasi permintaan-didorong”. Hubungan penawaran dan permintaan yang tampaknya sederhana ini sebenarnya membentuk siklus positif: laba perusahaan meningkat → perusahaan melakukan konsumsi dan investasi → permintaan secara keseluruhan semakin meningkat → ekonomi terus berkembang.
Contoh paling klasik dalam sejarah adalah ledakan ekonomi China awal tahun 2000-an. Saat itu, CPI naik dari 0% menjadi 5%, sementara pertumbuhan GDP melonjak dari 8% menjadi lebih dari 10%. Inflasi permintaan-didorong ini memang menyebabkan kenaikan harga, tetapi yang lebih penting adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, sehingga banyak pemerintah di seluruh dunia senang merangsang jenis permintaan ini.
Biaya produksi yang meningkat mendorong lonjakan harga
Jenis inflasi lain berasal dari kenaikan biaya produksi di hulu, seperti harga bahan baku dan energi yang meningkat. Kita sebut sebagai “inflasi biaya-didorong”. Contohnya, selama konflik Rusia-Ukraina tahun 2022, memberikan pelajaran berharga—ketergantungan Eropa terhadap energi Rusia terputus, harga minyak dan gas melonjak sepuluh kali lipat, dan CPI di zona euro pun melampaui 10% secara tahunan, mencapai level tertinggi dalam 40 tahun.
Berbeda dengan inflasi permintaan, inflasi biaya-didorong cenderung lebih berbahaya karena sering disertai penurunan output sosial dan kontraksi GDP—situasi yang sangat tidak diinginkan oleh pemerintah.
Risiko kelebihan pasokan uang
Kelebihan pasokan uang secara langsung dapat menyebabkan inflasi. Sejarah menunjukkan bahwa inflasi hiper yang parah sering kali disebabkan oleh pemerintah yang mencetak uang tanpa kendali. Di Taiwan, pada tahun 1950-an, pernah mengalami pelajaran pahit—untuk mengatasi defisit besar pasca perang, Bank Taiwan mencetak uang dalam jumlah besar, sehingga 8 juta dollar Taiwan hanya setara 1 dolar AS, dan harga barang melonjak dengan kecepatan yang luar biasa.
Ekspektasi inflasi yang menjadi kenyataan
Ketika masyarakat memperkirakan bahwa harga akan terus naik di masa depan, mereka cenderung segera membeli barang (sebelum harga naik lagi), sekaligus menuntut kenaikan gaji. Hal ini memicu pelaku usaha menaikkan harga, memulai siklus inflasi baru. Begitu ekspektasi inflasi terbentuk, sulit untuk mengubahnya. Inilah sebabnya mengapa bank sentral sangat menekankan pentingnya “menyampaikan komitmen bahwa inflasi akan dikendalikan.”
Bagaimana kenaikan harga yang moderat merangsang pertumbuhan ekonomi
Banyak orang merasa takut saat mendengar kata inflasi, tetapi ada satu pemahaman penting yang perlu diubah: manfaat inflasi yang moderat sebenarnya cukup signifikan.
Ketika inflasi tetap dalam batas wajar, orang akan memperkirakan bahwa barang di masa depan akan lebih mahal, sehingga mereka terdorong untuk berbelanja lebih banyak. Permintaan yang meningkat mendorong pelaku usaha memperluas investasi dan produksi, yang selanjutnya menggerakkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Contoh dari China kembali membuktikan hal ini—tingkat inflasi dari 0% naik ke 5%, sementara pertumbuhan GDP melonjak dari 8% menjadi lebih dari 10%, menunjukkan manfaat langsung dari inflasi.
Sebaliknya, apa yang terjadi jika inflasi di bawah 0% (deflasi)? Pasar akan menghadapi situasi yang sangat berbeda. Jepang pada tahun 1990-an mengalami tragedi ini—setelah gelembung ekonomi pecah, harga hampir berhenti naik, masyarakat lebih memilih menimbun uang tunai daripada berbelanja, sehingga permintaan menurun, pertumbuhan GDP menjadi negatif, dan ekonomi pun memasuki masa stagnasi selama hampir 30 tahun.
Oleh karena itu, bank sentral di seluruh dunia menetapkan target inflasi. Negara-negara maju seperti AS, Eropa, Inggris, Jepang, Kanada, dan Australia umumnya menargetkan 2-3%, sementara negara lain biasanya menetapkan dalam kisaran 2-5%. Tujuan bank sentral adalah menemukan titik keseimbangan emas antara inflasi dan deflasi.
Siapa yang bisa meraih keuntungan dari inflasi? Mengungkap rahasia kekayaan para debitur
Manfaat inflasi tidak hanya menguntungkan ekonomi secara umum, tetapi juga dapat mengubah pola kekayaan individu. Orang yang berutang justru menjadi pemenang di masa inflasi.
Ini mungkin terdengar kontraintuitif, tetapi logikanya sangat jelas. Meskipun inflasi mengikis daya beli uang tunai, bagi peminjam uang, inflasi adalah ladang kekayaan yang tersembunyi. Bayangkan Anda 20 tahun lalu meminjam 1 juta dolar Taiwan dengan suku bunga tetap 3% untuk membeli properti. Dalam 20 tahun, inflasi akan membuat nilai uang tersebut turun dari sekitar 1 juta menjadi sekitar 550 ribu dolar, tetapi Anda hanya perlu membayar kembali nominal 1 juta dolar. Secara nyata, Anda hanya membayar setengah dari jumlah pinjaman awal—ini adalah keuntungan tak terlihat dari inflasi bagi debitur.
Prinsip ini juga berlaku dalam dunia investasi. Di masa inflasi tinggi, investor yang menggunakan leverage utang untuk membeli saham, properti, emas, dan aset lainnya akan mendapatkan manfaat terbesar. Mereka tidak hanya menikmati kenaikan nilai aset, tetapi juga dapat membayar kembali pinjaman dengan uang yang nilainya menurun, menciptakan keuntungan ganda.
Kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral dan hubungan timbal balik dengan inflasi
Ketika harga barang naik di atas target, bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga. Bagaimana kenaikan suku bunga dapat menekan inflasi?
Kenaikan suku bunga secara langsung meningkatkan biaya pinjaman. Ketika suku bunga bank naik dari 1% menjadi 5%, pinjaman 1 juta dolar akan menimbulkan beban bunga tahunan dari 10 ribu menjadi 50 ribu dolar, sehingga konsumen dan perusahaan lebih cenderung menabung daripada meminjam. Dana mengalir dari pasar ke bank, likuiditas menyusut, dan permintaan terhadap barang pun berkurang. Akibatnya, pelaku usaha terpaksa menurunkan harga untuk meningkatkan penjualan, sehingga harga-harga turun dan inflasi terkendali.
Namun, kenaikan suku bunga tidak tanpa konsekuensi. Dengan berkurangnya permintaan, perusahaan akan mengurangi tenaga kerja, tingkat pengangguran meningkat, dan pertumbuhan ekonomi melambat. Contoh nyata adalah tahun 2022 di AS—untuk menekan inflasi yang mencapai 9,1% (tertinggi dalam 40 tahun), Federal Reserve menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali, total 425 basis poin, dari 0,25% menjadi 4,5%. Hasilnya, pasar saham pun mengalami penurunan besar: indeks S&P 500 turun 19%, dan Nasdaq yang lebih banyak berisi saham teknologi turun hingga 33%. Kenaikan suku bunga berhasil menurunkan inflasi, tetapi dengan biaya resesi ekonomi.
Keputusan investasi di lingkungan inflasi tinggi: saham energi dan aset lindung nilai
Ketika berbicara tentang investasi di lingkungan inflasi tinggi, kesimpulannya cukup jelas: inflasi rendah mendukung pasar saham, sedangkan inflasi tinggi cenderung merugikan pasar saham.
Namun, ini tidak berarti bahwa di masa inflasi tinggi kita harus menjauh dari pasar saham. Data sejarah menunjukkan bahwa sektor energi adalah pengecualian—ketika sektor lain mengalami tekanan, saham perusahaan energi sering justru naik melawan tren.
Tahun 2022 adalah bukti nyata. Di tengah kelesuan pasar saham secara umum, sektor energi justru memberikan pengembalian lebih dari 60%. Contohnya, saham perusahaan minyak Barat naik 111%, ExxonMobil naik 74%. Ketika harga barang melonjak karena kekurangan minyak dan gas, perusahaan energi yang memiliki sumber daya ini dan mendapatkan manfaat dari kenaikan harga menjadi tempat berlindung yang aman bagi investor.
Tiga langkah membangun portofolio anti-inflasi
Di era inflasi, pengaturan aset yang tepat menjadi sangat penting. Investor perlu mencari kombinasi aset yang mampu melindungi dari penggerusan nilai uang dan sekaligus memberikan pertumbuhan jangka panjang.
Langkah pertama: Identifikasi kategori aset yang tahan inflasi
Data sejarah menunjukkan bahwa kategori aset berikut relatif stabil selama periode inflasi tinggi:
Langkah kedua: Bangun portofolio yang terdiversifikasi
Mengandalkan satu jenis aset terlalu berisiko. Pendekatan yang lebih aman adalah menyeimbangkan portofolio: 33% di saham untuk menangkap pertumbuhan pasar, 33% di emas untuk perlindungan nilai, dan 33% di dolar AS untuk menikmati apresiasi nilai tukar. Kombinasi ini membantu menyebar risiko sekaligus memperoleh imbal hasil yang seimbang selama siklus inflasi.
Langkah ketiga: Manfaatkan alat perdagangan modern untuk kemudahan eksekusi
Secara tradisional, mencapai alokasi ini memerlukan membuka rekening di berbagai broker—sulit dan memakan waktu. Kini, kontrak selisih harga (CFD) menawarkan solusi satu atap. CFD mencakup saham, emas, mata uang, aset digital, dan lainnya, yang dapat diakses melalui satu platform. Dengan leverage hingga 200 kali, modal awal yang dibutuhkan jauh lebih kecil.
Misalnya, melalui platform CFD, investor cukup mencari “emas” atau “XAUUSD” untuk menemukan produk terkait. Dengan leverage 100x, hanya dengan 19 dolar AS, mereka sudah bisa membuka posisi emas. Demikian pula, untuk indeks dolar atau saham energi seperti ExxonMobil, prosesnya jauh lebih sederhana dan efisien dalam mengelola portofolio anti-inflasi.
Ringkasan: Mengubah tantangan menjadi peluang
Kenaikan harga adalah tantangan sekaligus peluang. Manfaat inflasi tergantung pada: inflasi moderat dapat merangsang ekonomi, sedangkan inflasi tinggi membutuhkan intervensi bank sentral. Tugas investor bukanlah memprediksi inflasi, melainkan memahami mekanismenya dan membangun portofolio yang beragam untuk melindungi dari depresiasi mata uang sekaligus menangkap peluang apresiasi.
Saham, emas, properti, dan dolar—aset-aset ini masing-masing memiliki peran selama siklus inflasi. Kuncinya adalah menyesuaikan proporsi sesuai toleransi risiko dan periode investasi Anda. Apapun perkembangan inflasi, portofolio yang kokoh akan selalu menjadi perisai terbaik melawan kenaikan harga.