Prediksi Nilai Tukar GBP terhadap RMB: Peluang Investasi dan Risiko Mata Uang Keempat Terbesar di Dunia

Tertarik berinvestasi dalam GBP? Sebagai mata uang utama keempat di dunia yang paling banyak beredar, Poundsterling (GBP) tidak hanya memegang posisi penting di pasar valuta asing, tetapi juga semakin menarik perhatian para investor di China terhadap fluktuasi nilai tukarnya terhadap Renminbi (RMB). Artikel ini akan secara mendalam mengulas jejak sejarah Pound, pola pergerakan harga, serta prediksi masa depan nilai tukar GBP terhadap RMB, membantu Anda menangkap peluang investasi dari pasangan mata uang kunci ini.

Pound dan Renminbi: Dari Pemahaman Dasar Hingga Mekanisme Nilai Tukar

Poundsterling (simbol di pasar forex adalah GBP) adalah mata uang resmi Inggris, diterbitkan oleh Bank of England, dengan simbol £. Sebagai salah satu mata uang cadangan global, Pound menyumbang sekitar 13% dari volume transaksi harian di pasar valuta asing, posisi kedua setelah dolar AS, euro, dan yen. Di pasar forex internasional, pasangan mata uang yang paling populer yang melibatkan Pound adalah EUR/GBP dan GBP/USD, dengan GBP/USD menjadi salah satu dari lima pasangan mata uang dengan volume perdagangan tertinggi.

Seiring meningkatnya pengaruh ekonomi Inggris secara global dan proses internasionalisasi Renminbi, nilai tukar GBP terhadap RMB juga menjadi indikator penting yang harus diperhatikan oleh investor lintas batas. Fluktuasi nilai tukar GBP/RMB dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebijakan ekonomi kedua negara, selisih suku bunga, hubungan perdagangan, dan lain-lain.

Dalam melakukan transaksi pasangan mata uang terkait Pound, memahami mekanisme penawaran harga nilai tukar sangat penting. Sebagai contoh, GBP/USD, GBP adalah mata uang dasar, USD adalah mata uang kutipan, dan angka yang muncul menunjukkan berapa dolar diperlukan untuk membeli satu Pound. Misalnya, GBP/USD 1.2120 berarti satu Pound setara dengan 1.2120 dolar. Digit ketiga di belakang koma disebut pip, yang digunakan untuk mengukur besarnya fluktuasi Pound. Demikian pula, nilai tukar GBP terhadap RMB mencerminkan kekuatan ekonomi relatif Inggris dan China serta aliran modal di antara keduanya.

Ciri Utama Pound: Mengapa Sangat Fluktuatif

Dibandingkan dengan pasangan mata uang lain seperti GBP/USD, Pound menunjukkan beberapa karakteristik mencolok. Pertama, Pound memiliki likuiditas dan volatilitas tinggi, menjadikannya target utama bagi banyak trader jangka pendek. Kapitalisasi pasar Pound relatif lebih kecil dibandingkan euro, sehingga volatilitasnya jauh lebih besar, terutama saat pengumuman keputusan Bank of England dan data ekonomi penting seperti GDP, lapangan kerja, dan inflasi.

Kedua, Pound sangat sensitif terhadap variabel politik. Meskipun Inggris telah keluar dari Uni Eropa, perubahan politik dan ekonomi di Eropa tetap berdampak besar terhadap Pound. Sensitivitas ini menjadi ciri khas yang membedakan Pound dari mata uang utama lainnya.

Ketiga, sebagai mata uang non-dolar, Pound langsung dipengaruhi oleh pergerakan indeks dolar AS. Pound sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga dan kebijakan neraca aset AS. Secara historis, kecuali pada periode tertentu, Pound cenderung bergerak searah dengan mata uang non-dolar dan berlawanan arah dengan dolar AS. Dalam lingkungan saat ini, ketegasan kebijakan moneter Federal Reserve dan perbandingannya dengan sikap Bank of England menjadi faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi nilai tukar.

Dekade Fluktuasi: Pola Sejarah dan Sensitivitas Politik Pound

Untuk memahami arah masa depan nilai tukar GBP terhadap RMB, kita harus meninjau perjalanan Pound selama sepuluh tahun terakhir. Dari 2015 hingga 2025, GBP/USD mengalami serangkaian perubahan besar yang menarik perhatian.

Periode Stabil relatif di 2015

Awal 2015, GBP/USD bertahan di sekitar 1.53, menunjukkan kondisi ekonomi Inggris yang relatif stabil. Namun, isu Brexit sudah mulai mengemuka di panggung politik Inggris, meskipun pasar belum sepenuhnya menyadarinya. Masa ini bisa dianggap sebagai puncak relatif Pound dalam dekade terakhir.

Perubahan besar 2016 — Dampak Brexit

Guncangan nyata terjadi pada Juni 2016 saat referendum Brexit. Setelah hasil penghitungan keluar diumumkan, Pound langsung anjlok, dari sekitar 1.47 ke sekitar 1.22, mencatat penurunan harian terbesar dalam puluhan tahun. Krisis ini membuktikan satu kebenaran: GBP sangat sensitif terhadap variabel politik. Ketidakpastian adalah musuh utama pasar, dan Pound adalah mata uang yang sangat politik-sensitif, karakteristik ini juga berpengaruh terhadap arah GBP terhadap RMB.

Tekanan pandemi 2020

Setelah pandemi melanda, ekonomi global hampir berhenti total. Inggris yang menerapkan lockdown berkepanjangan mengalami tekanan ekonomi besar. GBP sempat jatuh di bawah 1.15, mendekati level terendah saat krisis keuangan global. Dolar AS menguat tajam sebagai aset safe haven, dan Pound pun menjadi salah satu korban.

Kejadian “Runtuhnya Pound” 2022

Tahun 2022 menjadi tahun paling gelap dalam sejarah Pound. Perdana Menteri baru Liz Truss mengusung “mini anggaran” yang bertujuan merangsang ekonomi melalui pemotongan pajak besar-besaran. Masalahnya, pemerintah tidak menjelaskan sumber dana secara jelas, sehingga memicu kepanikan pasar. Pasar obligasi dan valuta bergerak liar, dan Pound langsung anjlok ke level terendah sepanjang masa di 1.03. Kejadian ini menjadi contoh ekstrem risiko kebijakan yang sangat berisiko.

Perlahan stabil kembali 2023-2025

Sejak 2023, dengan pelambatan kenaikan suku bunga AS dan kebijakan hawkish Bank of England, Pound mulai pulih. Hingga awal 2025, nilai tukar berkisar di sekitar 1.26. Meski membaik dari titik terendah 2022, posisi ini masih jauh dari puncak 2015.

Tiga Pola Utama Pergerakan Harga Pound

Dengan mengamati tren historis, terdapat tiga pola logis yang sangat jelas di balik fluktuasi Pound:

Pola 1: Ketidakpastian politik meningkat → GBP turun tajam

Dari referendum Brexit 2016, gejolak kebijakan fiskal 2022, hingga ancaman referendum kemerdekaan Skotlandia, setiap kali terjadi ketidakpastian internal Inggris, Pound cenderung langsung melemah. Pola ini juga berlaku terhadap GBP/RMB—ketika politik Inggris kacau, modal internasional cenderung mengalir ke pasar yang lebih stabil, termasuk China dan negara-negara ekonomi stabil lainnya.

Pola 2: Siklus kenaikan suku bunga AS → GBP tertekan dan melemah

Amerika adalah pusat aliran dana global. Saat Federal Reserve menaikkan suku bunga, dolar AS menguat, dan tekanan terhadap mata uang non-dolar seperti Pound meningkat. Kecuali Bank of England juga menaikkan suku bunga secara bersamaan, modal cenderung kembali ke AS. Namun, mulai akhir 2024, situasi berubah—pasar memperkirakan AS akan mulai menurunkan suku bunga, sehingga daya tarik dolar berkurang, dan Inggris tetap mempertahankan suku bunga tinggi, mendorong pengalihan modal ke Pound. Perubahan selisih suku bunga ini langsung mempengaruhi nilai GBP terhadap RMB.

Pola 3: Kebijakan hawkish Bank of England + data ekonomi positif → GBP menguat dan rebound

Sebaliknya, jika data ekonomi Inggris membaik, tingkat pengangguran turun, dan Bank of England menunjukkan sikap hawkish, pasar akan memperkirakan Pound akan menguat. Sejak 2023, BOE beberapa kali mengisyaratkan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama, sehingga pasar kembali optimis terhadap GBP, dan nilai tukar perlahan naik ke sekitar 1.26. Pola ini juga berlaku untuk prediksi GBP terhadap RMB—sinyal hawkish dari BOE biasanya mengangkat Pound relatif terhadap RMB.

Prediksi Multi-Dimensi: Analisis Tren GBP terhadap RMB

Dari berbagai sudut pandang, akhir 2024 menjadi titik balik penting. Dengan ekspektasi penurunan suku bunga AS yang semakin jelas, ditambah tren de-dolarisasi global yang meluas, serta membaiknya kondisi ekonomi Inggris, peluang penguatan GBP terhadap RMB semakin terbuka. Namun, kondisi ekonomi Inggris secara keseluruhan tetap menjadi faktor kunci.

Selisih suku bunga: Inggris vs AS vs China

Pergerakan nilai tukar sangat dipengaruhi oleh “selisih suku bunga”—sederhananya, negara mana yang menawarkan bunga lebih tinggi, modal akan mengalir ke sana. Saat ini, ekspektasi penurunan suku bunga AS sudah menguat. Berdasarkan prediksi pasar, Federal Reserve kemungkinan akan mulai menurunkan suku bunga di paruh kedua 2025, dengan penurunan sekitar 75-100 basis poin.

Sementara itu, peluang Inggris mempertahankan suku bunga tinggi tetap besar. Meski inflasi mulai melandai, tetap berada di sekitar 3%, dan BOE menegaskan akan mempertahankan suku bunga tinggi sampai inflasi mencapai tingkat yang dapat diterima. Di sisi lain, kebijakan suku bunga China relatif longgar, yang berpotensi menekan GBP/RMB agar tidak terlalu menguat.

Namun, ketidaksesuaian kebijakan ini mulai berkurang. Jika AS benar-benar mulai menurunkan suku bunga sesuai jadwal dan China tetap longgar, daya tarik GBP terhadap RMB akan meningkat karena keunggulan suku bunga relatif Inggris.

Fundamental ekonomi Inggris: Stabil tapi pertumbuhan lemah

Investor juga memperhatikan kondisi fundamental ekonomi suatu negara untuk menilai potensi penguatan mata uangnya. Ekonomi Inggris tidak terlalu buruk, meskipun tidak terlalu cerah, dan secara umum sedikit lebih baik dari negara-negara Eropa lainnya.

Inflasi tahunan terbaru Inggris sekitar 3.2%, meskipun turun dari puncaknya 2022, tetap di atas target 2%. Pasar tenaga kerja stabil dengan tingkat pengangguran sekitar 4.1%, dan pertumbuhan upah yang kuat mendukung stabilitas ekonomi. GDP kuartal terakhir 2024 tumbuh sekitar 0.3%, menunjukkan Inggris keluar dari resesi teknis, meskipun pertumbuhan tetap moderat.

Sebaliknya, meskipun pertumbuhan ekonomi China melambat, sebagai ekonomi kedua terbesar dunia, stabilitas fundamentalnya tetap menarik bagi modal internasional. Perbandingan ini turut mempengaruhi nilai relatif GBP terhadap RMB.

Perdagangan dan aliran modal: Penguatan hubungan ekonomi China-Inggris

Dengan meningkatnya investasi langsung China di Inggris dan perluasan perdagangan bilateral, nilai tukar GBP/RMB semakin dipengaruhi oleh hubungan perdagangan kedua negara. Ketika investasi langsung China ke Inggris meningkat, permintaan terhadap Pound pun meningkat, dan sebaliknya. Selain itu, proses internasionalisasi RMB yang terus berlangsung secara bertahap meningkatkan peran RMB di pasar valuta asing global, yang berpengaruh jangka panjang terhadap GBP/RMB.

Prediksi masa depan: Potensi pergerakan GBP terhadap RMB

Menggabungkan berbagai faktor, beberapa lembaga keuangan memprediksi bahwa jika AS benar-benar mulai menurunkan suku bunga, Inggris mempertahankan suku bunga tinggi, dan tekanan penguatan RMB mereda, GBP/RMB berpotensi menguat. Sebaliknya, jika data ekonomi Inggris tidak membaik, bank sentral terpaksa mempercepat penurunan suku bunga, atau tekanan penguatan RMB meningkat, maka pasangan ini bisa mengalami koreksi ke bawah.

Indikator utama yang perlu diperhatikan meliputi: perubahan selisih suku bunga Inggris-AS, pertumbuhan GDP kedua negara, perkembangan hubungan perdagangan, serta risiko geopolitik.

Waktu dan Strategi Terbaik untuk Transaksi GBP

Dalam bertransaksi pasangan GBP, memilih waktu yang tepat sangat penting. Waktu terbaik biasanya adalah saat pertemuan pasar Eropa dan Amerika Serikat, karena sebagian besar order dilakukan pada periode ini.

Dibandingkan sesi Asia, volatilitas di pasar Eropa dan Amerika lebih tinggi, dan biasanya terjadi saat pasar Eropa dibuka. Karena Pound adalah mata uang domestik Inggris, waktu London (sekitar pukul 14.00 waktu Inggris saat musim dingin) adalah awal aktifnya perdagangan Pound. Ketika pasar AS mulai aktif (sekitar pukul 20.00 waktu Inggris saat musim dingin), volume transaksi mencapai puncaknya. Periode overlap (sekitar pukul 20.00 hingga 02.00 waktu Inggris saat musim dingin) sering menjadi waktu dengan pergerakan dan volatilitas terbesar.

Perlu diperhatikan bahwa hari pengumuman data penting seperti keputusan Bank of England (biasanya sekitar pukul 20.00 waktu Inggris) dan data ekonomi utama seperti GDP (biasanya sekitar pukul 17-18.00 waktu Inggris) sering kali menawarkan peluang trading terbaik. Jika hasilnya berbeda dari ekspektasi, Pound bisa mengalami pergerakan tajam.

Strategi praktis trading GBP

Perdagangan GBP sangat bergantung pada siklus trading dan toleransi risiko investor. Jika memperkirakan GBP akan menguat terhadap RMB, bisa melakukan pembelian pasar (buy) atau menempatkan limit order di harga lebih rendah dari harga saat ini untuk posisi long. Alternatif lain adalah menggunakan order breakout (buy stop), di mana order ditempatkan di harga di atas harga pasar saat ini. Penting juga untuk menetapkan stop loss dan take profit agar risiko terkendali dan target keuntungan tercapai.

Untuk posisi short GBP, bisa melakukan penjualan langsung (sell) atau menempatkan limit order jual di harga lebih tinggi. Jika memperkirakan tren turun, bisa menggunakan order trailing (sell stop) di bawah harga pasar saat ini. Sama pentingnya, menetapkan level stop loss dan take profit.

Manajemen risiko: Pentingnya pengaturan stop loss

Penting untuk diingat bahwa pengaturan stop loss adalah strategi yang sangat efektif dan wajib digunakan. Bagi trader yang mengincar keuntungan stabil jangka panjang, penggunaan stop loss secara fleksibel membantu mengendalikan risiko. Dengan menetapkan level stop loss yang tepat, kerugian besar dapat dihindari, dan kondisi trading tetap sehat. Hal ini sangat penting untuk pasangan mata uang yang volatilitasnya tinggi seperti GBP/RMB.

Kesimpulan: Menangkap Peluang Investasi dari GBP terhadap RMB

Meski tren GBP akhir-akhir ini cukup berat, Inggris tetap merupakan ekonomi terbesar keempat di dunia, dan pasar GBP/USD tetap menjadi salah satu pasangan mata uang dengan volume terbesar secara global. Prediksi nilai tukar GBP terhadap RMB memerlukan pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga Pound—mulai dari stabilitas politik, kebijakan bank sentral, data ekonomi, hingga selisih suku bunga dan hubungan perdagangan kedua negara.

Pergerakan harga GBP dipengaruhi oleh faktor yang lebih kompleks dibanding mata uang lain, yang merupakan risiko sekaligus peluang. Dengan memahami pola fluktuasi Pound dan faktor penentu GBP/RMB, Anda dapat menemukan ritme investasi yang sesuai di pasar yang dinamis ini. Ke depan, dengan kemungkinan Inggris memasuki siklus pemilu, AS mulai menurunkan suku bunga, dan proses internasionalisasi RMB semakin maju, nilai tukar GBP/RMB pasti akan menunjukkan peluang baru dalam berbagai gelombang pergerakan. Selalu perhatikan perubahan kebijakan, rilis data ekonomi, dan sentimen pasar, karena faktor-faktor ini seringkali lebih menentukan daripada analisis teknikal semata.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)