Banyak investor merasa takut ketika mendengar istilah “saham delisting”, menganggap bahwa kepemilikan saham tersebut akan hilang dalam semalam. Namun sebenarnya, selama mereka mampu mengakses informasi secara tepat waktu dan memahami mekanismenya, masih ada cara untuk meminimalkan kerugian, bahkan dalam kondisi tertentu dapat membalikkan keadaan. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang sejarah dan kondisi saham delisting, agar Anda dapat menghindari jalan berliku dalam berinvestasi.
Apa itu saham delisting? Mengapa perusahaan bisa dihapus dari bursa
Saham delisting adalah saham yang sebelumnya terdaftar dan diperdagangkan di bursa efek, namun karena tidak memenuhi standar listing atau atas permintaan sendiri, dihentikan pencatatannya. Setelah saham delisting dihapus, investor tidak lagi dapat melakukan transaksi di bursa tersebut, tetapi ini tidak berarti saham itu benar-benar hilang; hanya saja likuiditasnya sangat menurun.
Perlu ditegaskan bahwa delisting berbeda dengan over-the-counter (OTC). Delisting adalah penghapusan perusahaan dari bursa resmi, sedangkan OTC adalah perusahaan yang sebelumnya terdaftar di bursa utama dan kemudian dipindahkan ke pasar OTC. Kedua hal ini memiliki dampak berbeda terhadap investor.
Ada empat alasan utama mengapa saham bisa dihapus dari daftar:
1. Penghapusan paksa akibat memburuknya kondisi keuangan
Kerugian berkelanjutan, nilai bersih negatif, laporan auditor yang menolak memberikan opini atau tidak dapat memberikan pendapat, semuanya dapat memicu delisting. Contoh paling terkenal adalah Chesapeake Energy Corporation dari Amerika Serikat, yang mengajukan kebangkrutan pada Juni 2020 dan kemudian melakukan restrukturisasi pada Februari 2021. Saham-saham seperti ini merupakan ancaman terbesar bagi investor.
2. Penghentian karena pelanggaran pengungkapan informasi
Tidak mengungkapkan informasi penting sesuai ketentuan, melaporkan pendapatan secara palsu, melakukan transaksi insider, dan pelanggaran lain yang terkait akan langsung memicu proses delisting. Setelah terungkapnya kecurangan keuangan Luckin Coffee pada April 2020, sahamnya langsung dikeluarkan dari NASDAQ, menjadi contoh peringatan agar investor berhati-hati dalam memilih saham.
3. Perusahaan secara aktif melakukan delisting untuk privatisasi
Beberapa perusahaan secara sukarela mengajukan delisting karena diakuisisi oleh induk perusahaan atau memilih untuk menjadi perusahaan privat. Contohnya adalah Dell Technologies yang keluar dari NASDAQ pada 2013, yang merupakan contoh delisting sukarela. Dibandingkan dengan delisting paksa, delisting sukarela biasanya disertai peluang buyback (pembelian kembali saham).
4. Harga saham yang terus-menerus rendah menyebabkan delisting otomatis
Perusahaan yang harga sahamnya terus-menerus di bawah standar minimum yang ditetapkan bursa juga akan masuk daftar delisting. Risiko dari saham semacam ini relatif lebih rendah, tetapi masalah likuiditas tetap perlu diperhatikan.
Empat akhir dari saham delisting: Bagaimana nilai berubah
Setelah saham dihapus dari daftar, arah nilainya tergantung pada alasan delisting. Investor harus memahami bahwa hasil kepemilikan saham dalam berbagai situasi berbeda secara drastis:
Situasi 1: Buyback privat—berpotensi meningkat nilai
Ketika saham yang beredar hanya sekitar 10%–20%, pemegang saham mayoritas sering melakukan buyback saham yang beredar di pasar dengan harga tinggi dalam periode tertentu. Saham delisting seperti ini justru menjadi peluang, dan investor harus memantau pengumuman perusahaan secara ketat dan menunggu rencana buyback.
Situasi 2: Perusahaan bangkrut dan likuidasi—nilai mendekati nol
Ini adalah skenario paling pesimis. Dalam proses kebangkrutan, urutan pembayaran utang adalah: kreditor → pemegang saham preferen → pemegang saham biasa. Sebagai pemegang saham biasa, Anda akan mendapatkan bagian terakhir dari sisa aset, yang biasanya berujung pada kerugian total. Saham semacam ini secara praktis sudah tidak bernilai apa-apa.
Situasi 3: Nilai pasar menyusut—dijual dengan diskon
Perusahaan yang mengalami penurunan bisnis secara drastis menyebabkan nilai pasar turun tajam, dan saham delisting mengalami likuiditas yang sangat minim. Pihak beruntung mungkin menemukan pembeli di pasar dalam atau luar pasar, tetapi harga jualnya pasti jauh di bawah harga beli. Sebaliknya, jika tidak ada yang tertarik, kerugian bisa mencapai 100%.
Situasi 4: Penghapusan karena pelanggaran—masa depan tidak pasti
Saham yang dihapus karena pelanggaran pengungkapan informasi biasanya akan dibekukan kepemilikannya, dan harus menunggu proses hukum selesai agar bisa dilepaskan. Selama periode ini, Anda secara efektif kehilangan akses terhadap dana tersebut.
Proses delisting dan sinyal peringatan
Proses delisting tidak terjadi secara mendadak; biasanya berlangsung selama beberapa bulan, sehingga investor memiliki waktu yang cukup untuk merespons. Memahami proses delisting adalah kunci untuk mengidentifikasi peluang keluar:
Tahap peringatan: Bursa mengirimkan “Surat Peringatan Penghentian Perdagangan”, dan nama saham akan diberi tanda “*” atau “ST” (misalnya “*XX Elektronik”). Ini adalah sinyal peringatan pertama. Saat ini, investor harus meningkatkan kewaspadaan dan mulai menilai risiko.
Masa perbaikan: Perusahaan diberikan waktu 3–6 bulan sebagai “periode remediasi”, selama itu mereka dapat mengajukan laporan keuangan tambahan, menarik investor, dan memperbaiki kondisi keuangan. Jika perusahaan mengambil langkah aktif, risiko delisting bisa berkurang.
Tahap peninjauan: Jika target perbaikan tidak tercapai, bursa akan mengadakan rapat peninjauan untuk memutuskan secara resmi apakah saham akan dihapus. Pada tahap ini, peluang delisting sudah cukup tinggi.
Penghentian pencatatan: Pengumuman tanggal delisting, dan setelah hari perdagangan terakhir, saham resmi keluar dari pasar bursa dan masuk ke pasar luar bursa atau proses likuidasi.
Lima strategi menghadapi saham delisting
Ketika delisting sudah pasti, investor harus mengambil langkah berbeda sesuai kondisi:
Strategi 1: Pantau pengumuman perusahaan secara ketat
Sebelum saham benar-benar dihapus, perusahaan akan mengumumkan di “Laman Informasi Publik” tanggal delisting dan langkah selanjutnya. Investor harus aktif mengikuti, atau mengonfirmasi langsung ke broker apakah ada opsi buyback, transfer ke pasar OTC, dan lain-lain. Ini adalah kunci untuk mengamankan peluang.
Strategi 2: Evaluasi dan ikut serta dalam buyback
Jika perusahaan mengajukan skema buyback, investor harus menyelesaikan prosedur dalam batas waktu pengumuman, agar tidak kehilangan hak buyback. Partisipasi dalam buyback memerlukan penilaian harga buyback apakah wajar dan mempertimbangkan ketidakpastian kelanjutan kepemilikan.
Strategi 3: Pindah ke pasar OTC dan terus bertransaksi
Beberapa saham delisting akan dipindahkan ke pasar OTC. Meskipun volume transaksi rendah dan likuiditas lemah, tetap bisa diperdagangkan melalui broker. Jika kondisi keuangan perusahaan membaik dan ada peluang listing kembali, Anda bisa memilih untuk tetap memegang.
Strategi 4: Transfer secara privat melalui perjanjian di luar pasar
Jika tidak ada opsi buyback atau OTC, investor dapat melakukan perjanjian transfer saham secara pribadi dengan pemegang saham lain. Proses ini memerlukan pengalihan kepemilikan perusahaan, tetapi setidaknya masih ada peluang keluar.
Strategi 5: Kerugian dari likuidasi kebangkrutan sebagai pengurang pajak
Jika saham delisting karena kebangkrutan dan tidak bisa dikembalikan, investor dapat mengklaim kerugian investasi sebagai pengurang keuntungan modal, sehingga secara pajak dapat mengurangi beban. Disarankan berkonsultasi dengan akuntan agar proses pelaporan benar.
Perbedaan antara saham delisting dan suspend (penghentian sementara)
Banyak investor pemula sering bingung antara “suspend” dan “delisting”, sehingga membuat keputusan yang salah. Faktanya, keduanya berbeda secara mendasar:
Karakteristik
Saham Suspend
Saham Delisting
Status transaksi
Penangguhan sementara, bisa dilanjutkan
Penghentian permanen, tidak diperdagangkan lagi
Keluar dari bursa
Tidak, hanya suspend sementara
Ya, resmi dihapus dari daftar
Perubahan nilai saham
Hampir tidak berubah selama suspend
Kemungkinan besar mengalami perubahan besar
Tindakan investor
Perhatikan pengumuman perusahaan
Ambil langkah aktif sesuai risiko
Suspend biasanya terjadi karena peristiwa besar (restrukturisasi, pengungkapan laporan keuangan, fluktuasi ekstrem) dan bersifat sementara. Delisting adalah penghapusan permanen, sehingga investor harus segera menilai risiko dan memutuskan langkah selanjutnya.
Investor jangka menengah dan panjang yang membeli saham dengan harga sesuai harapan biasanya tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap suspend. Tetapi jika terkait delisting, penundaan keputusan bisa memperbesar kerugian.
Daripada bersikap pasif menghadapi saham delisting, lebih baik membangun pertahanan risiko sejak awal. Pencegahan selalu lebih baik daripada penanganan darurat:
Seleksi saham saat memilih: Sebelum membeli, lakukan analisis mendalam terhadap prospek bisnis perusahaan, posisi pasar, kondisi keuangan, dan apakah memenuhi syarat listing bursa. Perhatikan indikator seperti kerugian berkelanjutan dan pelanggaran pengungkapan informasi yang berpotensi menyebabkan delisting.
Diversifikasi portofolio: Hindari konsentrasi dana terlalu besar pada satu saham delisting atau satu industri tertentu. Sesuaikan alokasi aset berdasarkan toleransi risiko:
Profil risiko tinggi: Kontrak CFD 15%, saham 50%, dana 30%, tabungan bank 5%
Profil risiko sedang: Kontrak CFD 10%, saham 35%, dana 35%, tabungan bank 20%
Profil risiko rendah: Kontrak CFD 5%, saham 15%, dana 40%, tabungan bank 40%
Dengan demikian, kerugian dari satu saham delisting tidak akan menggoyahkan keseluruhan rencana investasi.
Pantau sinyal peringatan secara rutin: Biasakan memeriksa laporan keuangan perusahaan dan pengumuman bursa secara berkala. Jika muncul tanda “ST” atau berita negatif, segera evaluasi apakah perlu mengurangi atau menjual seluruh posisi, jangan berharap keberuntungan.
Kerangka pengambilan keputusan setelah saham delisting
Ketika menghadapi saham yang sudah pasti delisting, investor harus menjawab satu pertanyaan utama: apakah akan tetap memegang atau langsung menjual?
Jika hasil evaluasi menunjukkan kerugian: Jika ada pembeli yang bersedia mengambil alih, sebaiknya segera keluar. Jangan berharap keajaiban akan membalikkan keadaan, karena harga pasar biasanya sudah mencerminkan risiko nyata. Likuiditas saham delisting hilang, sehingga keluar dari posisi akan semakin sulit.
Jika hasil evaluasi menunjukkan potensi keuntungan: Bisa dipertimbangkan untuk tetap memegang, tetapi harus terus mengikuti pengumuman perusahaan dan menunggu peluang buyback dengan harga tinggi atau listing kembali di pasar OTC. Namun, kondisi ini relatif jarang dan biasanya hanya berlaku untuk saham delisting yang dilakukan secara sukarela dan privat.
Situasi khusus: saham yang kembali listing setelah delisting
Meskipun peluangnya kecil, ada kasus di mana saham yang delisting berhasil diakuisisi dan di-restrukturisasi sehingga kembali terdaftar di bursa. Pada saat itu, saham tersebut kembali memiliki likuiditas dan bisa dipertimbangkan untuk dipertahankan atau dijual sesuai kondisi pasar.
Inti dari berinvestasi adalah bukan memprediksi setiap pergerakan, tetapi menyiapkan pertahanan saat risiko muncul dan merespons peluang dengan cepat. Memahami mekanisme delisting adalah bagian dari kebijaksanaan tersebut.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Saham yang Dihentikan Perdagangan: Panduan Akhir yang Wajib Dibaca oleh Investor
Banyak investor merasa takut ketika mendengar istilah “saham delisting”, menganggap bahwa kepemilikan saham tersebut akan hilang dalam semalam. Namun sebenarnya, selama mereka mampu mengakses informasi secara tepat waktu dan memahami mekanismenya, masih ada cara untuk meminimalkan kerugian, bahkan dalam kondisi tertentu dapat membalikkan keadaan. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang sejarah dan kondisi saham delisting, agar Anda dapat menghindari jalan berliku dalam berinvestasi.
Apa itu saham delisting? Mengapa perusahaan bisa dihapus dari bursa
Saham delisting adalah saham yang sebelumnya terdaftar dan diperdagangkan di bursa efek, namun karena tidak memenuhi standar listing atau atas permintaan sendiri, dihentikan pencatatannya. Setelah saham delisting dihapus, investor tidak lagi dapat melakukan transaksi di bursa tersebut, tetapi ini tidak berarti saham itu benar-benar hilang; hanya saja likuiditasnya sangat menurun.
Perlu ditegaskan bahwa delisting berbeda dengan over-the-counter (OTC). Delisting adalah penghapusan perusahaan dari bursa resmi, sedangkan OTC adalah perusahaan yang sebelumnya terdaftar di bursa utama dan kemudian dipindahkan ke pasar OTC. Kedua hal ini memiliki dampak berbeda terhadap investor.
Ada empat alasan utama mengapa saham bisa dihapus dari daftar:
1. Penghapusan paksa akibat memburuknya kondisi keuangan
Kerugian berkelanjutan, nilai bersih negatif, laporan auditor yang menolak memberikan opini atau tidak dapat memberikan pendapat, semuanya dapat memicu delisting. Contoh paling terkenal adalah Chesapeake Energy Corporation dari Amerika Serikat, yang mengajukan kebangkrutan pada Juni 2020 dan kemudian melakukan restrukturisasi pada Februari 2021. Saham-saham seperti ini merupakan ancaman terbesar bagi investor.
2. Penghentian karena pelanggaran pengungkapan informasi
Tidak mengungkapkan informasi penting sesuai ketentuan, melaporkan pendapatan secara palsu, melakukan transaksi insider, dan pelanggaran lain yang terkait akan langsung memicu proses delisting. Setelah terungkapnya kecurangan keuangan Luckin Coffee pada April 2020, sahamnya langsung dikeluarkan dari NASDAQ, menjadi contoh peringatan agar investor berhati-hati dalam memilih saham.
3. Perusahaan secara aktif melakukan delisting untuk privatisasi
Beberapa perusahaan secara sukarela mengajukan delisting karena diakuisisi oleh induk perusahaan atau memilih untuk menjadi perusahaan privat. Contohnya adalah Dell Technologies yang keluar dari NASDAQ pada 2013, yang merupakan contoh delisting sukarela. Dibandingkan dengan delisting paksa, delisting sukarela biasanya disertai peluang buyback (pembelian kembali saham).
4. Harga saham yang terus-menerus rendah menyebabkan delisting otomatis
Perusahaan yang harga sahamnya terus-menerus di bawah standar minimum yang ditetapkan bursa juga akan masuk daftar delisting. Risiko dari saham semacam ini relatif lebih rendah, tetapi masalah likuiditas tetap perlu diperhatikan.
Empat akhir dari saham delisting: Bagaimana nilai berubah
Setelah saham dihapus dari daftar, arah nilainya tergantung pada alasan delisting. Investor harus memahami bahwa hasil kepemilikan saham dalam berbagai situasi berbeda secara drastis:
Situasi 1: Buyback privat—berpotensi meningkat nilai
Ketika saham yang beredar hanya sekitar 10%–20%, pemegang saham mayoritas sering melakukan buyback saham yang beredar di pasar dengan harga tinggi dalam periode tertentu. Saham delisting seperti ini justru menjadi peluang, dan investor harus memantau pengumuman perusahaan secara ketat dan menunggu rencana buyback.
Situasi 2: Perusahaan bangkrut dan likuidasi—nilai mendekati nol
Ini adalah skenario paling pesimis. Dalam proses kebangkrutan, urutan pembayaran utang adalah: kreditor → pemegang saham preferen → pemegang saham biasa. Sebagai pemegang saham biasa, Anda akan mendapatkan bagian terakhir dari sisa aset, yang biasanya berujung pada kerugian total. Saham semacam ini secara praktis sudah tidak bernilai apa-apa.
Situasi 3: Nilai pasar menyusut—dijual dengan diskon
Perusahaan yang mengalami penurunan bisnis secara drastis menyebabkan nilai pasar turun tajam, dan saham delisting mengalami likuiditas yang sangat minim. Pihak beruntung mungkin menemukan pembeli di pasar dalam atau luar pasar, tetapi harga jualnya pasti jauh di bawah harga beli. Sebaliknya, jika tidak ada yang tertarik, kerugian bisa mencapai 100%.
Situasi 4: Penghapusan karena pelanggaran—masa depan tidak pasti
Saham yang dihapus karena pelanggaran pengungkapan informasi biasanya akan dibekukan kepemilikannya, dan harus menunggu proses hukum selesai agar bisa dilepaskan. Selama periode ini, Anda secara efektif kehilangan akses terhadap dana tersebut.
Proses delisting dan sinyal peringatan
Proses delisting tidak terjadi secara mendadak; biasanya berlangsung selama beberapa bulan, sehingga investor memiliki waktu yang cukup untuk merespons. Memahami proses delisting adalah kunci untuk mengidentifikasi peluang keluar:
Tahap peringatan: Bursa mengirimkan “Surat Peringatan Penghentian Perdagangan”, dan nama saham akan diberi tanda “*” atau “ST” (misalnya “*XX Elektronik”). Ini adalah sinyal peringatan pertama. Saat ini, investor harus meningkatkan kewaspadaan dan mulai menilai risiko.
Masa perbaikan: Perusahaan diberikan waktu 3–6 bulan sebagai “periode remediasi”, selama itu mereka dapat mengajukan laporan keuangan tambahan, menarik investor, dan memperbaiki kondisi keuangan. Jika perusahaan mengambil langkah aktif, risiko delisting bisa berkurang.
Tahap peninjauan: Jika target perbaikan tidak tercapai, bursa akan mengadakan rapat peninjauan untuk memutuskan secara resmi apakah saham akan dihapus. Pada tahap ini, peluang delisting sudah cukup tinggi.
Penghentian pencatatan: Pengumuman tanggal delisting, dan setelah hari perdagangan terakhir, saham resmi keluar dari pasar bursa dan masuk ke pasar luar bursa atau proses likuidasi.
Lima strategi menghadapi saham delisting
Ketika delisting sudah pasti, investor harus mengambil langkah berbeda sesuai kondisi:
Strategi 1: Pantau pengumuman perusahaan secara ketat
Sebelum saham benar-benar dihapus, perusahaan akan mengumumkan di “Laman Informasi Publik” tanggal delisting dan langkah selanjutnya. Investor harus aktif mengikuti, atau mengonfirmasi langsung ke broker apakah ada opsi buyback, transfer ke pasar OTC, dan lain-lain. Ini adalah kunci untuk mengamankan peluang.
Strategi 2: Evaluasi dan ikut serta dalam buyback
Jika perusahaan mengajukan skema buyback, investor harus menyelesaikan prosedur dalam batas waktu pengumuman, agar tidak kehilangan hak buyback. Partisipasi dalam buyback memerlukan penilaian harga buyback apakah wajar dan mempertimbangkan ketidakpastian kelanjutan kepemilikan.
Strategi 3: Pindah ke pasar OTC dan terus bertransaksi
Beberapa saham delisting akan dipindahkan ke pasar OTC. Meskipun volume transaksi rendah dan likuiditas lemah, tetap bisa diperdagangkan melalui broker. Jika kondisi keuangan perusahaan membaik dan ada peluang listing kembali, Anda bisa memilih untuk tetap memegang.
Strategi 4: Transfer secara privat melalui perjanjian di luar pasar
Jika tidak ada opsi buyback atau OTC, investor dapat melakukan perjanjian transfer saham secara pribadi dengan pemegang saham lain. Proses ini memerlukan pengalihan kepemilikan perusahaan, tetapi setidaknya masih ada peluang keluar.
Strategi 5: Kerugian dari likuidasi kebangkrutan sebagai pengurang pajak
Jika saham delisting karena kebangkrutan dan tidak bisa dikembalikan, investor dapat mengklaim kerugian investasi sebagai pengurang keuntungan modal, sehingga secara pajak dapat mengurangi beban. Disarankan berkonsultasi dengan akuntan agar proses pelaporan benar.
Perbedaan antara saham delisting dan suspend (penghentian sementara)
Banyak investor pemula sering bingung antara “suspend” dan “delisting”, sehingga membuat keputusan yang salah. Faktanya, keduanya berbeda secara mendasar:
Suspend biasanya terjadi karena peristiwa besar (restrukturisasi, pengungkapan laporan keuangan, fluktuasi ekstrem) dan bersifat sementara. Delisting adalah penghapusan permanen, sehingga investor harus segera menilai risiko dan memutuskan langkah selanjutnya.
Investor jangka menengah dan panjang yang membeli saham dengan harga sesuai harapan biasanya tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap suspend. Tetapi jika terkait delisting, penundaan keputusan bisa memperbesar kerugian.
Bagaimana mencegah risiko delisting? Strategi perlindungan portofolio
Daripada bersikap pasif menghadapi saham delisting, lebih baik membangun pertahanan risiko sejak awal. Pencegahan selalu lebih baik daripada penanganan darurat:
Seleksi saham saat memilih: Sebelum membeli, lakukan analisis mendalam terhadap prospek bisnis perusahaan, posisi pasar, kondisi keuangan, dan apakah memenuhi syarat listing bursa. Perhatikan indikator seperti kerugian berkelanjutan dan pelanggaran pengungkapan informasi yang berpotensi menyebabkan delisting.
Diversifikasi portofolio: Hindari konsentrasi dana terlalu besar pada satu saham delisting atau satu industri tertentu. Sesuaikan alokasi aset berdasarkan toleransi risiko:
Dengan demikian, kerugian dari satu saham delisting tidak akan menggoyahkan keseluruhan rencana investasi.
Pantau sinyal peringatan secara rutin: Biasakan memeriksa laporan keuangan perusahaan dan pengumuman bursa secara berkala. Jika muncul tanda “ST” atau berita negatif, segera evaluasi apakah perlu mengurangi atau menjual seluruh posisi, jangan berharap keberuntungan.
Kerangka pengambilan keputusan setelah saham delisting
Ketika menghadapi saham yang sudah pasti delisting, investor harus menjawab satu pertanyaan utama: apakah akan tetap memegang atau langsung menjual?
Jika hasil evaluasi menunjukkan kerugian: Jika ada pembeli yang bersedia mengambil alih, sebaiknya segera keluar. Jangan berharap keajaiban akan membalikkan keadaan, karena harga pasar biasanya sudah mencerminkan risiko nyata. Likuiditas saham delisting hilang, sehingga keluar dari posisi akan semakin sulit.
Jika hasil evaluasi menunjukkan potensi keuntungan: Bisa dipertimbangkan untuk tetap memegang, tetapi harus terus mengikuti pengumuman perusahaan dan menunggu peluang buyback dengan harga tinggi atau listing kembali di pasar OTC. Namun, kondisi ini relatif jarang dan biasanya hanya berlaku untuk saham delisting yang dilakukan secara sukarela dan privat.
Situasi khusus: saham yang kembali listing setelah delisting
Meskipun peluangnya kecil, ada kasus di mana saham yang delisting berhasil diakuisisi dan di-restrukturisasi sehingga kembali terdaftar di bursa. Pada saat itu, saham tersebut kembali memiliki likuiditas dan bisa dipertimbangkan untuk dipertahankan atau dijual sesuai kondisi pasar.
Inti dari berinvestasi adalah bukan memprediksi setiap pergerakan, tetapi menyiapkan pertahanan saat risiko muncul dan merespons peluang dengan cepat. Memahami mekanisme delisting adalah bagian dari kebijaksanaan tersebut.