Carry Trade (perdagangan selisih suku bunga) telah menjadi fokus diskusi di pasar modal global. Sejak Amerika Serikat mulai menaikkan suku bunga secara besar-besaran pada tahun 2022, semakin banyak investor yang mulai meneliti bagaimana memanfaatkan selisih suku bunga antar negara untuk melakukan arbitrase. Namun, banyak orang masih memiliki kesalahpahaman tentang carry trade, bahkan menganggapnya sama dengan arbitrase tradisional. Artikel ini akan mengupas secara mendalam mekanisme, risiko, dan strategi praktis carry trade.
Apa itu Carry Trade? Analisis Mekanisme Inti Perdagangan Selisih Suku Bunga
Carry Trade secara harfiah diterjemahkan sebagai “perdagangan membawa bunga”, yaitu tindakan berinvestasi dengan memanfaatkan perbedaan suku bunga dari berbagai instrumen keuangan. Singkatnya, investor meminjam dana dari negara dengan suku bunga rendah, lalu menginvestasikan dana tersebut ke produk keuangan di negara dengan suku bunga tinggi, untuk mendapatkan selisih bunga di antara keduanya.
Contoh nyata: Pada tahun 2022, saat AS mulai menaikkan suku bunga secara besar-besaran, tingkat deposito di AS mencapai 5%, sementara di Taiwan kenaikan suku bunganya lebih kecil, hanya sekitar 2%. Pada saat itu, jika Anda meminjam yen dari bank Taiwan dengan suku bunga 2%, lalu menukarnya ke dolar dan menyimpannya di bank AS untuk mendapatkan bunga 5%, selisih 3% tersebut menjadi sumber keuntungan Anda.
Tampak sederhana dan aman, banyak orang bahkan menganggap ini sebagai “arbitrase tanpa risiko”. Sebab, secara tradisional, kita diajarkan bahwa mata uang dari negara yang menaikkan suku bunga biasanya akan menguat. Pada tahun 2022, nilai tukar dolar Taiwan terhadap dolar AS sekitar 1:29, dan pada 2024 naik menjadi 1:32,6. Ini berarti selain mendapatkan keuntungan dari bunga, apresiasi nilai tukar juga dapat memberikan keuntungan tambahan—sebuah situasi menang-menang yang tampaknya sempurna.
Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Mengapa Setelah Kenaikan Suku Bunga Nilai Tukar Tidak Selalu Menguat? Risiko Tersembunyi dalam Carry Trade
Hubungan antara kenaikan suku bunga dan apresiasi mata uang tidak selalu berlaku. Kasus Argentina adalah contoh terbaik yang menjadi peringatan.
Ketika menghadapi krisis utang, pemerintah Argentina mengambil langkah ekstrem—meningkatkan suku bunga mendekati 100%, artinya menabung 100 peso di bank akan mendapatkan bunga sekitar 200 peso di akhir tahun. Suku bunga setinggi itu seharusnya menarik masuknya investasi asing dan mendukung peso agar tidak terdepresiasi. Tetapi kenyataannya, setelah pengumuman kebijakan tersebut, peso Argentina dalam satu hari langsung melemah 30%.
Apa yang bisa dipelajari dari situ? Kenaikan suku bunga bukanlah obat mujarab, di baliknya tersembunyi faktor politik dan ekonomi yang jauh lebih rumit. Ketika investor kehilangan kepercayaan terhadap prospek ekonomi suatu negara, bahkan suku bunga yang tinggi pun tidak mampu mencegah modal keluar.
Inilah mengapa carry trade secara umum dianggap sebagai investasi berisiko tinggi. Banyak investor yang melakukan carry trade menggunakan leverage tinggi untuk memperbesar keuntungan. Ketika nilai tukar berbalik arah secara mendadak, kerugian bisa berlipat ganda.
Risiko Utama Carry Trade: Nilai Tukar, Suku Bunga, dan Likuiditas
Risiko 1: Pergerakan Nilai Tukar
Ini adalah risiko paling jelas. Bahkan jika pendapatan bunga stabil, pergerakan nilai tukar yang merugikan dapat mengikis bahkan menghapus seluruh keuntungan. Terutama saat ketegangan geopolitik atau krisis ekonomi, fluktuasi nilai tukar bisa sangat ekstrem.
Risiko 2: Perubahan Suku Bunga
Banyak orang mengabaikan hal ini. Selisih suku bunga yang awalnya positif bisa menyempit bahkan berbalik menjadi kerugian.
Contoh nyata: Beberapa tahun lalu, perusahaan asuransi di Taiwan menawarkan polis dengan bunga tetap 6% hingga 8%. Saat itu, suku bunga deposito di Taiwan mencapai 10% sampai 13%. Konsumen membeli polis tersebut untuk mengunci pendapatan dan menghindari risiko penurunan suku bunga di masa depan. Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, suku bunga deposito Taiwan turun menjadi 1% sampai 2%. Polis yang dulu menjanjikan bunga 6% sampai 8% kini menjadi beban berat bagi perusahaan asuransi.
Risiko serupa juga dihadapi oleh banyak investor properti: awalnya mereka memperkirakan pendapatan sewa lebih tinggi dari biaya pinjaman, tetapi kemudian suku bunga pinjaman naik atau sewa turun, sehingga selisih keuntungan berubah menjadi kerugian.
Risiko 3: Risiko Likuiditas
Tidak semua instrumen keuangan memiliki likuiditas yang cukup. Anda mungkin membeli dengan harga 100, tetapi saat ingin menjual, hanya bisa mendapatkan 90. Beberapa produk juga mengenakan biaya transaksi yang mahal saat dijual. Terburuk lagi adalah kontrak jangka panjang seperti asuransi, di mana hanya pemegang polis yang berhak membatalkan, sementara perusahaan asuransi terkunci.
Oleh karena itu, sebelum melakukan carry trade, risiko likuiditas harus dipertimbangkan secara serius.
Strategi Hedging: Bagaimana Mengelola Risiko Nilai Tukar dalam Carry Trade
Karena risiko yang begitu besar, bagaimana investor bisa menghindarinya? Jawabannya adalah menggunakan instrumen keuangan lain yang bergerak berlawanan untuk melakukan lindung nilai (hedging).
Misalnya, sebuah perusahaan manufaktur di Taiwan menerima pesanan sebesar 1 juta dolar AS. Setelah pengiriman, baru akan menerima pembayaran, dan waktunya satu tahun kemudian. Dengan kurs saat ini 1:32,6, maka 1 juta dolar setara dengan 32,6 juta TWD. Tetapi, setelah satu tahun, nilai tukar bisa berubah, dan perusahaan tidak yakin bisa menukarkan jumlah yang sama.
Perusahaan tersebut dapat membeli kontrak forward valuta asing (swap) untuk mengunci kurs saat ini. Dengan demikian, mereka tidak akan menyesal jika kurs menguat, dan tidak akan mengalami kerugian jika kurs melemah—sepenuhnya menghilangkan risiko nilai tukar.
Namun, apa biayanya? Mengunci kurs memerlukan biaya. Biaya ini tidak bisa langsung diimbangi dengan potensi keuntungan dari apresiasi kurs. Dalam praktiknya, sangat jarang orang melakukan hedging dari awal sampai akhir. Biasanya, hedging dilakukan hanya saat menghadapi situasi tak terduga seperti libur panjang atau kejadian luar biasa lainnya. Sebagian besar investor memilih menutup posisi dan mengimbangi risiko dengan instrumen investasi baru.
Kasus Carry Trade Terbesar di Dunia: Kejatuhan Kerajaan Yen
Di antara semua carry trade, menggunakan yen sebagai mata uang pinjaman adalah yang terbesar, dan menjadi representasi carry trade global.
Mengapa Jepang menjadi mesin penarikan dana bagi para arbitrageur? Alasannya sangat sederhana:
Jepang adalah salah satu negara maju yang paling stabil secara politik dan mata uangnya stabil, serta memiliki suku bunga yang sangat rendah. Lebih penting lagi, pemerintah Jepang mendorong pinjaman dan investasi. Untuk merangsang inflasi dan konsumsi domestik, Jepang menerapkan kebijakan pelonggaran moneter ekstrem—mencetak uang secara besar-besaran dan mendorong masyarakat meminjam uang untuk berinvestasi. Meskipun Eropa juga pernah mempertahankan suku bunga nol dalam waktu lama, jarang ada investor internasional yang secara besar-besaran meminjam euro untuk arbitrase—perbedaan budaya dan sistem menjadi faktor utama.
Jepang mempertahankan suku bunga nol bahkan negatif dalam jangka panjang, lalu bagaimana investor global memanfaatkan keunggulan ini?
Strategi Carry Trade Yen 1: Investasi di Mata Uang dan Produk Keuangan Berimbal Hasil Tinggi
Investor internasional masuk ke Bank Jepang, menggunakan dolar AS atau aset domestik sebagai jaminan, meminjam yen dengan suku bunga sangat rendah, bahkan menerbitkan obligasi yen berimbal hasil rendah (sekitar 1%). Lalu, mereka menginvestasikan dana tersebut ke mata uang dan produk keuangan di negara dengan suku bunga tinggi seperti AS dan Eropa, bahkan langsung ke properti.
Pendapatan dari bunga dan sewa ini digunakan untuk membayar bunga pinjaman yen, dan sisanya digunakan untuk pelunasan pokok lebih awal. Karena biaya pinjaman yen sangat rendah, meskipun kurs berbalik merugikan saat jatuh tempo, secara keseluruhan investasi ini tetap menguntungkan.
Strategi Carry Trade Yen 2: Pinjam Yen, Investasi di Pasar Saham Jepang
Warren Buffett adalah salah satu pelaku utama strategi ini. Setelah pandemi, bank-bank sentral di seluruh dunia mulai melakukan pelonggaran kuantitatif (QE). Buffett menganggap valuasi saham AS terlalu tinggi, lalu mencari peluang di Jepang.
Dia menerbitkan obligasi yen melalui Berkshire Hathaway, meminjam dana murah, lalu masuk ke pasar saham Jepang membeli saham-saham berkapitalisasi besar. Kemudian, dia mengadakan rapat pemegang saham dan menuntut perusahaan-perusahaan Jepang meningkatkan dividen atau melakukan buyback saham. Selanjutnya, dia datang langsung ke Tokyo dan mengkritik tata kelola perusahaan: likuiditas saham yang rendah, kepemilikan silang yang berlebihan, harga saham yang tidak mencapai nilai buku. Dengan kombinasi ini, Buffett meraih keuntungan lebih dari 50% dalam dua tahun.
Keunggulan strategi ini adalah sepenuhnya menghindari risiko nilai tukar—dia meminjam yen dan berinvestasi di saham Jepang, semua hasilnya dihitung dalam yen, sehingga tidak perlu khawatir fluktuasi kurs. Selain itu, karena Buffett mampu masuk ke dewan direksi dan mempengaruhi pengambilan keputusan perusahaan, risiko investasi relatif rendah. Kecuali perusahaan-perusahaan ini berhenti menghasilkan laba, pendapatan dari bunga dan dividen tetap stabil.
Meskipun kebanyakan orang akan menganggap meminjam uang untuk berinvestasi saham sebagai tindakan sangat berisiko, bagi para master investasi yang mampu mengendalikan perusahaan, ini justru peluang risiko rendah.
Arbitrase vs Carry Trade: Apakah Anda Benar-Benar Memahami Perbedaannya?
Banyak orang mencampuradukkan kedua konsep ini, padahal secara esensial berbeda.
Arbitrase (Arbitrage) bertujuan mencari “arbitrase tanpa risiko”. Ia memanfaatkan perbedaan harga dari instrumen yang sama di pasar berbeda, waktu berbeda, atau wilayah berbeda, untuk membeli murah dan menjual mahal secara simultan. Karena transaksi dilakukan secara bersamaan, perbedaan harga bersifat objektif dan secara teori tidak menimbulkan risiko pasar.
Carry Trade (perdagangan selisih suku bunga) adalah berinvestasi langsung pada aset yang memiliki perbedaan suku bunga. Investor harus menanggung risiko fluktuasi nilai tukar, perubahan suku bunga, dan likuiditas yang menipis. Perbedaan utama adalah: arbitrase mencari kepastian, sedangkan carry trade bertaruh pada arah pasar.
Kunci Keuntungan Carry Trade: Waktu, Instrumen, dan Strategi
Agar bisa meraih keuntungan dari carry trade, menguasai waktu transaksi adalah salah satu faktor terpenting. Anda harus menilai berapa lama carry trade Anda bisa berlangsung, lalu memilih instrumen yang paling sesuai. Untuk perdagangan jangka pendek, hindari pasangan mata uang yang sangat volatil; untuk jangka panjang, fokuslah pada aset dengan imbal hasil tertinggi.
Selain itu, analisis tren harga relatif dari instrumen investasi selama periode tertentu sangat penting. Pilihlah instrumen yang menunjukkan pola yang dapat diprediksi dan relatif stabil. Misalnya, nilai tukar dolar AS terhadap dolar Taiwan menunjukkan pola tertentu dalam jangka waktu panjang, berbeda dengan mata uang dari pasar berkembang yang volatilitasnya sulit diprediksi.
Oleh karena itu, investor carry trade harus menyiapkan data rinci tentang perubahan suku bunga dan nilai tukar antar negara, membangun kerangka analisis sendiri. Hanya dengan memahami hubungan antara suku bunga dan nilai tukar secara mendalam, keputusan investasi carry trade dapat dibuat secara lebih ilmiah dan efektif.
Akhirnya, carry trade bukan sekadar membeli mata uang berimbal tinggi dan meminjam mata uang berimbal rendah. Ia menuntut kemampuan analisis ekonomi internasional yang mendalam, kesadaran risiko, dan kemampuan eksekusi taktis. Hanya dengan menguasai ketiganya, investor dapat meraih keuntungan secara stabil dari perdagangan selisih suku bunga.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Panduan lengkap Carry Trade: dari risiko hingga keuntungan dalam pelatihan praktis
Carry Trade (perdagangan selisih suku bunga) telah menjadi fokus diskusi di pasar modal global. Sejak Amerika Serikat mulai menaikkan suku bunga secara besar-besaran pada tahun 2022, semakin banyak investor yang mulai meneliti bagaimana memanfaatkan selisih suku bunga antar negara untuk melakukan arbitrase. Namun, banyak orang masih memiliki kesalahpahaman tentang carry trade, bahkan menganggapnya sama dengan arbitrase tradisional. Artikel ini akan mengupas secara mendalam mekanisme, risiko, dan strategi praktis carry trade.
Apa itu Carry Trade? Analisis Mekanisme Inti Perdagangan Selisih Suku Bunga
Carry Trade secara harfiah diterjemahkan sebagai “perdagangan membawa bunga”, yaitu tindakan berinvestasi dengan memanfaatkan perbedaan suku bunga dari berbagai instrumen keuangan. Singkatnya, investor meminjam dana dari negara dengan suku bunga rendah, lalu menginvestasikan dana tersebut ke produk keuangan di negara dengan suku bunga tinggi, untuk mendapatkan selisih bunga di antara keduanya.
Contoh nyata: Pada tahun 2022, saat AS mulai menaikkan suku bunga secara besar-besaran, tingkat deposito di AS mencapai 5%, sementara di Taiwan kenaikan suku bunganya lebih kecil, hanya sekitar 2%. Pada saat itu, jika Anda meminjam yen dari bank Taiwan dengan suku bunga 2%, lalu menukarnya ke dolar dan menyimpannya di bank AS untuk mendapatkan bunga 5%, selisih 3% tersebut menjadi sumber keuntungan Anda.
Tampak sederhana dan aman, banyak orang bahkan menganggap ini sebagai “arbitrase tanpa risiko”. Sebab, secara tradisional, kita diajarkan bahwa mata uang dari negara yang menaikkan suku bunga biasanya akan menguat. Pada tahun 2022, nilai tukar dolar Taiwan terhadap dolar AS sekitar 1:29, dan pada 2024 naik menjadi 1:32,6. Ini berarti selain mendapatkan keuntungan dari bunga, apresiasi nilai tukar juga dapat memberikan keuntungan tambahan—sebuah situasi menang-menang yang tampaknya sempurna.
Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Mengapa Setelah Kenaikan Suku Bunga Nilai Tukar Tidak Selalu Menguat? Risiko Tersembunyi dalam Carry Trade
Hubungan antara kenaikan suku bunga dan apresiasi mata uang tidak selalu berlaku. Kasus Argentina adalah contoh terbaik yang menjadi peringatan.
Ketika menghadapi krisis utang, pemerintah Argentina mengambil langkah ekstrem—meningkatkan suku bunga mendekati 100%, artinya menabung 100 peso di bank akan mendapatkan bunga sekitar 200 peso di akhir tahun. Suku bunga setinggi itu seharusnya menarik masuknya investasi asing dan mendukung peso agar tidak terdepresiasi. Tetapi kenyataannya, setelah pengumuman kebijakan tersebut, peso Argentina dalam satu hari langsung melemah 30%.
Apa yang bisa dipelajari dari situ? Kenaikan suku bunga bukanlah obat mujarab, di baliknya tersembunyi faktor politik dan ekonomi yang jauh lebih rumit. Ketika investor kehilangan kepercayaan terhadap prospek ekonomi suatu negara, bahkan suku bunga yang tinggi pun tidak mampu mencegah modal keluar.
Inilah mengapa carry trade secara umum dianggap sebagai investasi berisiko tinggi. Banyak investor yang melakukan carry trade menggunakan leverage tinggi untuk memperbesar keuntungan. Ketika nilai tukar berbalik arah secara mendadak, kerugian bisa berlipat ganda.
Risiko Utama Carry Trade: Nilai Tukar, Suku Bunga, dan Likuiditas
Risiko 1: Pergerakan Nilai Tukar
Ini adalah risiko paling jelas. Bahkan jika pendapatan bunga stabil, pergerakan nilai tukar yang merugikan dapat mengikis bahkan menghapus seluruh keuntungan. Terutama saat ketegangan geopolitik atau krisis ekonomi, fluktuasi nilai tukar bisa sangat ekstrem.
Risiko 2: Perubahan Suku Bunga
Banyak orang mengabaikan hal ini. Selisih suku bunga yang awalnya positif bisa menyempit bahkan berbalik menjadi kerugian.
Contoh nyata: Beberapa tahun lalu, perusahaan asuransi di Taiwan menawarkan polis dengan bunga tetap 6% hingga 8%. Saat itu, suku bunga deposito di Taiwan mencapai 10% sampai 13%. Konsumen membeli polis tersebut untuk mengunci pendapatan dan menghindari risiko penurunan suku bunga di masa depan. Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, suku bunga deposito Taiwan turun menjadi 1% sampai 2%. Polis yang dulu menjanjikan bunga 6% sampai 8% kini menjadi beban berat bagi perusahaan asuransi.
Risiko serupa juga dihadapi oleh banyak investor properti: awalnya mereka memperkirakan pendapatan sewa lebih tinggi dari biaya pinjaman, tetapi kemudian suku bunga pinjaman naik atau sewa turun, sehingga selisih keuntungan berubah menjadi kerugian.
Risiko 3: Risiko Likuiditas
Tidak semua instrumen keuangan memiliki likuiditas yang cukup. Anda mungkin membeli dengan harga 100, tetapi saat ingin menjual, hanya bisa mendapatkan 90. Beberapa produk juga mengenakan biaya transaksi yang mahal saat dijual. Terburuk lagi adalah kontrak jangka panjang seperti asuransi, di mana hanya pemegang polis yang berhak membatalkan, sementara perusahaan asuransi terkunci.
Oleh karena itu, sebelum melakukan carry trade, risiko likuiditas harus dipertimbangkan secara serius.
Strategi Hedging: Bagaimana Mengelola Risiko Nilai Tukar dalam Carry Trade
Karena risiko yang begitu besar, bagaimana investor bisa menghindarinya? Jawabannya adalah menggunakan instrumen keuangan lain yang bergerak berlawanan untuk melakukan lindung nilai (hedging).
Misalnya, sebuah perusahaan manufaktur di Taiwan menerima pesanan sebesar 1 juta dolar AS. Setelah pengiriman, baru akan menerima pembayaran, dan waktunya satu tahun kemudian. Dengan kurs saat ini 1:32,6, maka 1 juta dolar setara dengan 32,6 juta TWD. Tetapi, setelah satu tahun, nilai tukar bisa berubah, dan perusahaan tidak yakin bisa menukarkan jumlah yang sama.
Perusahaan tersebut dapat membeli kontrak forward valuta asing (swap) untuk mengunci kurs saat ini. Dengan demikian, mereka tidak akan menyesal jika kurs menguat, dan tidak akan mengalami kerugian jika kurs melemah—sepenuhnya menghilangkan risiko nilai tukar.
Namun, apa biayanya? Mengunci kurs memerlukan biaya. Biaya ini tidak bisa langsung diimbangi dengan potensi keuntungan dari apresiasi kurs. Dalam praktiknya, sangat jarang orang melakukan hedging dari awal sampai akhir. Biasanya, hedging dilakukan hanya saat menghadapi situasi tak terduga seperti libur panjang atau kejadian luar biasa lainnya. Sebagian besar investor memilih menutup posisi dan mengimbangi risiko dengan instrumen investasi baru.
Kasus Carry Trade Terbesar di Dunia: Kejatuhan Kerajaan Yen
Di antara semua carry trade, menggunakan yen sebagai mata uang pinjaman adalah yang terbesar, dan menjadi representasi carry trade global.
Mengapa Jepang menjadi mesin penarikan dana bagi para arbitrageur? Alasannya sangat sederhana:
Jepang adalah salah satu negara maju yang paling stabil secara politik dan mata uangnya stabil, serta memiliki suku bunga yang sangat rendah. Lebih penting lagi, pemerintah Jepang mendorong pinjaman dan investasi. Untuk merangsang inflasi dan konsumsi domestik, Jepang menerapkan kebijakan pelonggaran moneter ekstrem—mencetak uang secara besar-besaran dan mendorong masyarakat meminjam uang untuk berinvestasi. Meskipun Eropa juga pernah mempertahankan suku bunga nol dalam waktu lama, jarang ada investor internasional yang secara besar-besaran meminjam euro untuk arbitrase—perbedaan budaya dan sistem menjadi faktor utama.
Jepang mempertahankan suku bunga nol bahkan negatif dalam jangka panjang, lalu bagaimana investor global memanfaatkan keunggulan ini?
Strategi Carry Trade Yen 1: Investasi di Mata Uang dan Produk Keuangan Berimbal Hasil Tinggi
Investor internasional masuk ke Bank Jepang, menggunakan dolar AS atau aset domestik sebagai jaminan, meminjam yen dengan suku bunga sangat rendah, bahkan menerbitkan obligasi yen berimbal hasil rendah (sekitar 1%). Lalu, mereka menginvestasikan dana tersebut ke mata uang dan produk keuangan di negara dengan suku bunga tinggi seperti AS dan Eropa, bahkan langsung ke properti.
Pendapatan dari bunga dan sewa ini digunakan untuk membayar bunga pinjaman yen, dan sisanya digunakan untuk pelunasan pokok lebih awal. Karena biaya pinjaman yen sangat rendah, meskipun kurs berbalik merugikan saat jatuh tempo, secara keseluruhan investasi ini tetap menguntungkan.
Strategi Carry Trade Yen 2: Pinjam Yen, Investasi di Pasar Saham Jepang
Warren Buffett adalah salah satu pelaku utama strategi ini. Setelah pandemi, bank-bank sentral di seluruh dunia mulai melakukan pelonggaran kuantitatif (QE). Buffett menganggap valuasi saham AS terlalu tinggi, lalu mencari peluang di Jepang.
Dia menerbitkan obligasi yen melalui Berkshire Hathaway, meminjam dana murah, lalu masuk ke pasar saham Jepang membeli saham-saham berkapitalisasi besar. Kemudian, dia mengadakan rapat pemegang saham dan menuntut perusahaan-perusahaan Jepang meningkatkan dividen atau melakukan buyback saham. Selanjutnya, dia datang langsung ke Tokyo dan mengkritik tata kelola perusahaan: likuiditas saham yang rendah, kepemilikan silang yang berlebihan, harga saham yang tidak mencapai nilai buku. Dengan kombinasi ini, Buffett meraih keuntungan lebih dari 50% dalam dua tahun.
Keunggulan strategi ini adalah sepenuhnya menghindari risiko nilai tukar—dia meminjam yen dan berinvestasi di saham Jepang, semua hasilnya dihitung dalam yen, sehingga tidak perlu khawatir fluktuasi kurs. Selain itu, karena Buffett mampu masuk ke dewan direksi dan mempengaruhi pengambilan keputusan perusahaan, risiko investasi relatif rendah. Kecuali perusahaan-perusahaan ini berhenti menghasilkan laba, pendapatan dari bunga dan dividen tetap stabil.
Meskipun kebanyakan orang akan menganggap meminjam uang untuk berinvestasi saham sebagai tindakan sangat berisiko, bagi para master investasi yang mampu mengendalikan perusahaan, ini justru peluang risiko rendah.
Arbitrase vs Carry Trade: Apakah Anda Benar-Benar Memahami Perbedaannya?
Banyak orang mencampuradukkan kedua konsep ini, padahal secara esensial berbeda.
Arbitrase (Arbitrage) bertujuan mencari “arbitrase tanpa risiko”. Ia memanfaatkan perbedaan harga dari instrumen yang sama di pasar berbeda, waktu berbeda, atau wilayah berbeda, untuk membeli murah dan menjual mahal secara simultan. Karena transaksi dilakukan secara bersamaan, perbedaan harga bersifat objektif dan secara teori tidak menimbulkan risiko pasar.
Carry Trade (perdagangan selisih suku bunga) adalah berinvestasi langsung pada aset yang memiliki perbedaan suku bunga. Investor harus menanggung risiko fluktuasi nilai tukar, perubahan suku bunga, dan likuiditas yang menipis. Perbedaan utama adalah: arbitrase mencari kepastian, sedangkan carry trade bertaruh pada arah pasar.
Kunci Keuntungan Carry Trade: Waktu, Instrumen, dan Strategi
Agar bisa meraih keuntungan dari carry trade, menguasai waktu transaksi adalah salah satu faktor terpenting. Anda harus menilai berapa lama carry trade Anda bisa berlangsung, lalu memilih instrumen yang paling sesuai. Untuk perdagangan jangka pendek, hindari pasangan mata uang yang sangat volatil; untuk jangka panjang, fokuslah pada aset dengan imbal hasil tertinggi.
Selain itu, analisis tren harga relatif dari instrumen investasi selama periode tertentu sangat penting. Pilihlah instrumen yang menunjukkan pola yang dapat diprediksi dan relatif stabil. Misalnya, nilai tukar dolar AS terhadap dolar Taiwan menunjukkan pola tertentu dalam jangka waktu panjang, berbeda dengan mata uang dari pasar berkembang yang volatilitasnya sulit diprediksi.
Oleh karena itu, investor carry trade harus menyiapkan data rinci tentang perubahan suku bunga dan nilai tukar antar negara, membangun kerangka analisis sendiri. Hanya dengan memahami hubungan antara suku bunga dan nilai tukar secara mendalam, keputusan investasi carry trade dapat dibuat secara lebih ilmiah dan efektif.
Akhirnya, carry trade bukan sekadar membeli mata uang berimbal tinggi dan meminjam mata uang berimbal rendah. Ia menuntut kemampuan analisis ekonomi internasional yang mendalam, kesadaran risiko, dan kemampuan eksekusi taktis. Hanya dengan menguasai ketiganya, investor dapat meraih keuntungan secara stabil dari perdagangan selisih suku bunga.